Life

Janji Sebuah Proses

Image
Elora Taalea Ahmad

Pagi itu, kami bertiga, aku, istri, dan anak perempuanku bangun secara bersamaan. Tak lama kemudian, alarm pada telepon genggamku berbunyi, yang artinya tepat pukul 5 (lima) pagi. Elora, anakku, seperti biasa, jika dia bangun akan langsung sigap dalam posisi terduduk. Hal pertama yang dia lakukan adalah merangkak menuju senderan ranjang dan memukul-mukul dengan tangannya hingga menghasilkan bunyi. Bunyi itulah membuat gaduh kamar kami, yang kebetulan kamar tersebut merupakan bagian dari rumah mertuaku.

Rutinitas ini bisa dinikmati hanya pada akhir pekan. Maklum, istri bekerja di luar kota dan Elora terpaksa dititipkan kepada mertua. Pagi itu badanku terasa letih, setelah hari sebelumnya bekerja hingga lewat jam kantor. Kontan, bunyi gaduh yang ditimbulkan oleh pukulan tangan anakku sedikit mengganggu. Bukan apa-apa, ya karena memang masih sangat pagi dan aku butuh waktu beristirahat. Satu hal yang harus diketahui, jika dilarang, Elora akan mengerang dengan amukannya. Maka terpaksa aku biarkan dirinya memukul-mukul kayu dipan itu dengan keras.

Sejak dalam kandungan, istriku memang selalu bertanya, “kenapa si utun (bayi) selalu bergerak-gerak yah?” Hal yang baru dia rasakan untuk kali pertama karena Elora adalah anak pertama kami.  Sempat aku menyaksikan perut istriku yang menyembul lalu berkata “nampaknya si utun sedang nungging” hehe. Kini anakku sudah berusia 8 (delapan) bulan. Dan yang paling dikenal dari dirinya adalah rambutnya yang jabrik dan tubuhnya yang sangat aktif bergerak.

Namun yang menarik adalah, dia akan mengejar sesuatu yang diinginkannya hingga mendapatkannya. Uniknya, tak pernah sekalipun dia merengek untuk meminta orang lain agar membantunya mengambilkan barang yang dia inginkan. Sebagai ayah tentu aku senang, karena dia menunjukan sifat gigih dan tak kenal menyerah. Sebuah sifat yang bahkan ibu bapaknya tak miliki.

Kami sebagai orangtua tak akan selalu mendampinginya karena kelak dia akan beranjak dewasa. Tentunya kami harus senantiasa belajar dan mengajarkannya berbagai hal kebaikan. Sifat gigihnya bisa menjadi sebuah bumerang, jika tidak dikendalikan. Dalam hidup, ada sesuatu yang sesuai keinginan akan kita dapatkan dan juga sebaliknya. Tak mesti keinginan berbanding lurus dengan kebutuhan. Untuk mengendalikan itulah peran orangtua dibutuhkan bagi anak yang memiliki sifat seperti Elora.

Aku sebagai orang dewasa pasti punya beban yang harus diselesaikan. Urusan keluarga menjadi prioritas di antara banyak persoalan. Saat rasa jenuh timbul, aku selalu ingat kepada sifat gigih anakku. Dengan keceriaan, dia akan terus mengejar apapun yang diinginkannya tanpa lelah, tanpa berkeluh kesah, dan tentu tanpa berharap belas kasihan orang lain. Dari situ aku belajar apa artinya proses menuju kemandirian.

Aku percaya bahwa janji dari sebuah proses bukanlah rentetan nilai. Melainkan hal di balik itu semua, hal yang menciptakan ketegaran dalam melakukan perjalanan hidup dengan kebahagiaan. Bila bahagia itu tak bersyarat, maka kenapa kita takut akan proses. Karena proses itu sendiri telah berjanji untuk mempersembahkan kemenangan batin setiap manusia, manusia yang menang melawan takut.  Terimakasih Elora, engkau telah memberikanku sebuah bekal utama dalam memainkan peranku sebagai manusia di alam dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s