Social

Mahluk Purba Penjelajah Samudera Sedang Merana

Image
Photo by Jerome Bourjea

Dari tujuh spesies penyu di dunia, enam di antaranya dapat ditemukan di perairan Indonesia. Namun, spesies penyu yang paling banyak ditemukan dan memiliki wilayah jelajah yang luas di perairan kita adalah Penyu hijau (Chelonia mydas) diikuti oleh Penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Untuk membedakan Penyu hijau dengan spesies penyu lainnya tidaklah mudah. Kita harus melihat gambar untuk mengetahui perbedaannya.

Penyu hijau hidup di laut tropis dan subtropis. Penyu sudah ada sejak 145 hingga 208 juta tahun yang lalu atau seusia dengan dinosaurus. Penyu yang termasuk hewan purba ini merupakan hewan yang tangguh di lautan. Mereka mampu berenang menjelajah antar-benua hanya dalam kurun waktu 1 hingga 2 bulan. Penyu dijejali alat navigasi alamiah di kepalanya sebagai alat bantu mereka menjelajah samudra yang luas tersebut.

Mahluk cantik ini memiliki panjang tubuh hingga 90 cm serta dengan bobot mencapai 150 kg. Nama Penyu hijau diambil dari warna lemak yang berada di bawah cangkangnya yang berwarna hijau. Di perairan Indonesia, kita dapat menjumpai populasi Penyu hijau di Kepulauan Derawan, Raja Ampat, Pantai Pangumbahan Sukabumi, serta beberapa tempat di Pulau Bali.

Beberapa lokasi di atas digunakan oleh para kawanan Penyu hijau untuk beraktivitas mencari makan (feeding), melakukan perkawinan (meeting), beristirahat (resting), dan bertelur (nesting). Usia kematang seksualnya tidaklah pasti. Diperkiraan saat ini usia kematangan seksualnya ialah sekitar 45 hingga 50 tahun. Penyu hijau betina bermigrasi dalam wilayah yang cukup luas, antara kawasan mencari makan dan bertelur, tetapi cenderung untuk mengikuti garis pantai dibandingkan menyeberangi lautan yang terbuka. Penyu dapat mengenali daerah  asal mereka saat menetas dari telurnya, meski sudah tiga puluh tahun meninggalkan daerah tersebut. Akan tetapi hanya penyu betina saja yang kembali ke daerahnya untuk meletakkan telur saat musim berbiak.

Menghadapi Ancaman

Di Indonesia, sedikitnya 10 ribu hingga 20 ribu ekor Penyu hijau menghadapi perburuan. Beberapa ancaman yang teridentifikasi antara lain; potassium sianida yang digunakan oleh nelayan dalam menangkap ikan, degradasi habitat Penyu hijau, serta perdagangan telur penyu. Khusus untuk perdagangan telur penyu, banyak diantara konsumen menganggap bahwa telur penyu memiliki banyak kandungan gizi. Padahal, satu butir telur penyu ditemukan beberapa zat berbahaya seperti logam berat.

Bali merupakan kawasan ‘pembunuh’ Penyu hijau terbesar. Hal ini dikarenakan dengan adanya kepercayaan lokal yang melibatkan penggunaan daging penyu pada upacara adat. Dari semua ancaman yang ada, yang paling membahayakan keberadaan populasi Penyu hijau adalah praktik jual beli telur penyu. Mengapa? Karena Penyu hijau membutuhkan waktu 30 tahun untuk kembali bertelur. Sungguh waktu yang tidak sekejap untuk proses berkembang biak. Dengan rentang regenerasi yang cukup panjang, rasio hidup Penyu hijau pun tak berimbang. Dari seribu ekor anak penyu (tukik) diperkirakan hanya satu hingga dua ekor saja yang berhasil hidup hingga dewasa.

Pemanasan Global Mengancam

Penyu hijau termasuk ke dalam hewan yang jenis kelaminnya ditentukan oleh suhu. Jika rata-rata suhu selama masa inkubasi di dalam pasir adalah 28 derajat celcius, maka telur yang akan menetas berjenis kelamin jantan. Lalu jika suhu 30 derajat celcius, maka 100% yang menetas adalah betina. Kondisi ini dikenal dengan istilah TSD (Temperature Sex Dependent). Bayangkan jika suhu bumi naik, maka yang akan menetas adalah Penyu hijau betina seluruhnya yang kemudian kepunahan hewan ini akan segera terjadi.

Keberadaan Penyu hijau sangat penting bagi kelangsungan ekosistem laut, salah satunya populasi lamun. Lamun biasa digunakan oleh ikan-ikan kecil berlindung dari kejaran predator. Bisa dibayangkan jika Penyu hijau punah, maka dampaknya akan langsung terasa. Tentunya, populasi ikan yang menjadi sumber protein manusia yang ampuh untuk pembentukan otak akan turut hilang. Nelayan menjadi pengangguran, generasi penerus kita akan berkemampuan otak rendah.

Sebagai generasi penerus, kita sepatutnya mulai sadar akan kerusakan-kerusakan yang diakibatkan ulah manusia sejak lama. Kita tak bisa lagi menghindar dari peringatan-peringatan akan bahaya dari kerusakan ekosistem alam ini. Mari lestarikan Penyu dimulai dengan hal yang paling sederhana.

Sumber:

  1. http://goo.gl/KZR0hT
  2. http://goo.gl/OJ0N12
  3. http://goo.gl/62MBI1
  4. http://goo.gl/tzpHeV
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s