Life, Short Story

Kekhawatiran yang Tersisihkan

Image
ilustrasi: google image

Khawatir dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ketakutan terhadap sesuatu hal yang belum pasti atau jelas. Kemudian menjadi wajar ketika setiap orang yang kita kenal selalu mengutarakan kegelisahannya terhadap kehidupan, toh memang hidup itu adalah misteri, atau lebih jauhnya, masa depan adalah misteri.

Tak perlu pembuktian bahwa sesuatu yang pasti adalah yang terjadi saat ini. Selain itu, seluruh agama di belahan dunia menyebutkan bahwa mahluk hidup itu pasti mati, hanya lagi-lagi yang samar adalah waktu, nah waktu tersebutlah yang dibilang masa depan yang misteri.

Seorang sahabat memberikan link di situs berbagi video Youtube. Dia memberikan link dari Unilever yang videonya berjudul “Mengapa melahirkan anak ke dunia ini? – Sebuah film oleh Unilever”. Isinya sih tentang orangtua yang diberikan gambaran dunia yang negatif, seperti peperangan, bencana dan lain-lain. Dari beberapa orangtua yang telah menyaksikannya kebanyakan terharu. Lantas mereka juga bertanya dengan maksud pertanyaan dari judul video tersebut.

Video itu diunggah pada tanggal 19 November 2013 dan dua hari kemudian, 21 November, diperingati sebagai Hari Pohon Sedunia. Tepat pada tanggal tersebut sahabat saya memberikan link video itu dan langsung saya saksikan. Ya! Bagi saya yang juga memiliki seorang anak, video itu cukup membuat termenung sejenak dan bertanya “Apakah saya khawatir mengenai masa depan anak saya?”.

Sering saya berdiskusi bersama istri mengenai akan jadi seperti apa anak kami kelak. Dan biasanya dalam diskusi tersebut dibumbui dengan perselisihan karena berbeda pendapat, hehehe. Namun dari video serta peringatan hari pohon, saya menemukan hal yang sebetulnya dikhawatirkan namun tersisihkan. Saya bukan khawatir akan di mana anak saya akan menjadi anak yang baik, siapa pasangan jiwanya nanti, apakah dia akan sehat, atau hal sepele seperti berapakah gaji bulannya. Semua itu sering menjadi kekhawatiran para orangtua terhadap anaknya yang menurut saya didasari dari pengalaman orangtuanya dalam menangkap kejadian saat ini.

foto: tumblr

Saya dididik oleh keluarga yang memiliki prinsip bahwa dunia harus dikejar. Tolak ukur perbincangannya hanya seputar pundi-pundi rupiah. Di luar itu hanya selingan saja dibahasnya. Kami tidak pernah mencari jawaban tentang apa sih yang disebut dengan alami atau natural? Bagaimana menjadi natural? Apakah manusia mahluk alami?

foto: tumblr

Inilah kekhawatiran saya terhadap masa depan anak saya kelak. Saya khawatir dia menjadi robot yang sudah ditanamkan sistem untuk mengeksploitasi alam tempat dia hidup. Saya takut dia lebih mencintai rentetan beton ketimbang jejeran pohon. Atau bahkan saya khawatir jika dia dewasa nanti, dia hanya dapat melihat pohon dalam lukisan saja.

Berikut link videonya:

http://www.youtube.com/watch?v=vlSjphW91G0

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s