Short Story, Social

Tak Sekadar Berburu Pakaian Bekas

Apakah Anda termasuk ke dalam kelompok orang yang memiliki pakaian favorit? Sudah berapa lama Anda mengenakan pakaian tersebut? Apa perasaan Anda jika menemukan pakaian tersebut rusak? Beberapa pertanyaan susulan akan terus mengikuti hingga akhirnya pakaian favorit Anda tidak memungkinkan untuk kembali dipakai.

Saya memiliki kebiasaan yang masih dijalani hingga kini. Kebiasaan yang berkaitan dengan pakaian itu telah saya lakukan sejak di bangku SMP, atau sekitar  13 tahun yang lalu. Karena terpengaruh oleh lingkungan, pada mulanya saya menjalankan kebiasaan tersebut hanya untuk tampil berbeda. Keterbatasan uang jajan tak menyurutkan niat untuk membeli pakaian dengan merek ternama, meski hanya bisa membawa pulang yang second hand saja.

Image
Salah Satu Hasil Berburu

Ya, hingga kini, saya masih menyempatkan untuk berjalan-jalan ke pasar loak yang menjajakan beragam pakaian bekas dari luar negeri. Tentunya dengan motivasi yang berbeda dari 13 tahun lalu. Anda mungkin akan kesulitan mencari sebuah jaket dengan merek tertentu. Namun, hanya dalam semalam saya bisa memiliki jaket merek tersebut dengan harga yang murah meriah. Dengan membeli pakaian bekas, saya merasa sedikitnya sudah melakukan gaya hidup yang ramah terhadap lingkungan dengan memakai ulang (reuse) khususnya pakaian yang masih layak.

Anda masih ingat ada berapa kali sesi diskon dalam satu tahunnya di Indonesia? Hari raya keagamaan, liburan anak sekolah, hingga beberapa hari besar turut dimanfaatkan untuk menghelat sesi diskon di banyak pusat belanja. Di Amerika sendiri, ada hari di mana terdapat sesi diskon ‘gila-gilaan’, yakni Black Friday. Seperti halnya bursa diskon di negeri ini, di perhelatan Black Friday pun hiruk pikuk orang seperti kesetanan memburu barang yang diinginkan. Banyak di antara kita yang tentunya tergiur dengan angka diskon yang terpampang. Beberapa pakaian incaran sepertinya bisa segera dimiliki meski tanpa melihat harganya berulang kali.

Begitu pun jelang perayaan hari besar keagamaan, terlebih saat umat muslim merayakan Lebaran. Hari-hari akhir puasa semua orang akan sibuk, sibuk memburu sesi diskon di pusat belanja. Bahkan, yang tadinya bukan tempat berjualan berubah menjadi pusat belanja.

Image
Hasil Buruan Lain

Menghargai

Lebih jauh mengenai kebiasaan saya membeli pakaian bekas ialah untuk menghargai apa yang sudah dimiliki. Memang masih belum semaksimal kelompok yang menggagas gerakan Buy Nothing Day yang melawan konsumerisme, namun setidaknya saya membantu mengurangi sampah dari pakaian-pakaian bekas sembari bergaya dengan merek tersohor hahaha.

Sebuah film yang dipublish pada tahun 2013 lalu, menceritakan tentang beberapa orang pengguna pakaian luar ruang ternama dalam menjalani aktivitas mereka selama ini. Film tersebut memiliki latar belakang motivasi si pengguna untuk menggunakan pakaian mereka selama mungkin. Berpikir kembali untuk membeli barang atau pakaian lalu membuangnya, hingga merayakan apa yang kita miliki selama ini menjadi arahan dari keseluruhan film pendek yang berjudul Worn Wear (link film) ini. Saya menyadari bahwa setiap barang yang kita miliki tentu juga punya cerita, maka tugas kita adalah merangkai cerita-cerita tersebut menjadi sebuah perjalanan yang indah dan tanpa ketamakan tentunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s