Life

Sederhana Seperti Dia

Hai istri dan anakku, ijinkan aku bercerita sedikit mengenai banyak hal. Ini sangat berkaitan dengan apa yang sedang kita jalani. Tak ada kata lain selain aku harus membaginya kepada kalian. Bagaimanapun kita semua hanya sedang dalam menunggu waktu akhir saja bukan?

Semalam sebelum diperingati Isra Mi’raj, aku bercakap dengan seorang kawan. Topik yang tengah kami perbincangkan hari itu adalah memaknai perjalanan hidup bagi seorang yang telah berkeluarga. Kami sepakat bahwa terdapat perbedaan dengan posisi sebelumnya sebagai seorang yang masih, ya katakanlah sendirian.

Seiring berjalannya percakapan yang menarik tersebut, aku menyadari bahwa sebagian besar hidup manusia memang dijalani bersama dengan keluarga (pasangan)-nya, kecuali bagi yang memutuskan untuk tetap dalam kesendirian. Jika dibilang dalam angka dan disesuaikan dengan umur Rasul, maka aku akan menghabiskan 40 tahun bersama keluarga. Ini jelas lebih banyak ketimbang aku sendiri terhitung sejak sma hingga lulus perguruan tinggi.

Yang menarik adalah, ada hubungan yang kuat antara makna topik perbincangan kami tadi dengan makna Isra Mi’raj yang kebetulan diperingati esok harinya (27/5). Menurut Al-Allamah Al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada 27 Rajab tahun ke-10 kenabian. Saat tersebut merupakan saat dimana sebenarnya seluruh umat muslim mendapatkan mandat yang tak terbantahkan; shalat 5 waktu.

Hai istriku, jika dihitung sudah berapa banyak kita mengeluh dan bersyukur terhadap hidup ini? Kita harap porsinya masih lebih banyak bersyukur ketimbang mengeluh. Kita tahu bahwa keluhankeluhan tersebut hadir karena ada pembanding. Di situlah makna Isra Mi’raj bekerja. Mereka menjawab bahwa ada hal lain selain kita terjebak ke dalam pemikiran yang singkat. Seperti kawan ngobrolku tadi, dia mengatakan bahwa proses itu tidak singkat, ada langkah-langkah yang harus dilalui meski terkadang kita berpikir apakah langkah ini sudah benar? Apakah upaya ini adalah kesia-siaan?

Seyyed Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993) mengungkapkan ada urutan makna yang menarik dari peristiwa Isra Mi’raj. Pertama adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah bersujud (shalat). Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasul dan umatnya untuk bangkit dan merebut kemenangan. Kita ini sering menjadi muslim yang sombong, kita terjebak dalam sebuah ruang di mana kita sebetulnya tidak ke mana-mana. Ketakutan kita bukan kepada seruan yang maha sempurna melainkan terhadap penilaian manusia.

Hai istriku, engkau tahu aku dan kerabat dekatku memiliki impian yang berbeda dengan yang lain. Kita sedang berlari mengejar impian yang tidak biasa-biasa saja. Sering dari kawan dan kerabatku tersebut bertanya apakah langkah menuju impian tersebut mendapatkan dukungan? Aku jawab tentu saja iya,

hanya saja upayanya yang berlipat ganda karena aku harus memastikan para pendukungku hidup aman dan nyaman. Satu pesanku hai istriku, ketika kita berkecukupan nanti, ijinkan aku untuk tetap menjadi diriku, aku sedang belajar bagaimana hidup selayaknya panutan umat Islam itu.

Dialah Muhammad yang tidur hanya beralaskan tikar. Dialah Muhammad yang menahan lapar yang mengganjal perutnya dengan batu. Dialah Muhammad yang marah kepada anaknya karena menggunakan kalung mahal. Dialah Muhammad, nabi kalian semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s