Life, Short Story, Travel

Family Backpackering #1: Yogyakarta

Processed with VSCOcam with g3 preset
Candi Prambanan

 

  “Tapi yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri; sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun…

because travelers never think that they are foreigners.”

― Windy AriestantyLife Traveler

Satu pertanyaan untuk Anda yang membaca tulisan ini; sudahkah Anda piknik tahun ini? Saya percaya bahwa cuti tahunan adalah salah satu hak yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan. Maka, jika Anda yang memiliki jawaban belum dari pertanyaan saya sebelumnya, segeralah ambil hak tersebut. Percayalah, bahwa rutinitas keseharian akan menjadi penjara jika tak diimbangi dengan piknik.

Tahun ini (2014), saya dan istri memang sudah merencanakan untuk mengisi waktu cuti tahunan dengan pergi berlibur keluar dari kota domisili rutinitas masing-masing dari kami. Saya dan istri memang beraktivitas berbeda kota, sehingga kami benar-benar membutuhkan waktu yang sangat berkualitas, bahkan sekadar untuk berbincang semata. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya kami memilih Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi destinasi perjalanan keluarga kali ini.

Tak banyak persiapan yang dilakukan, yang pasti kami sangat terbantu dengan beberapa referensi catatan perjalanan serupa yang dibuat oleh beberapa keluarga penikmat jalan-jalan melalui tulisan di blog mereka. Awalnya kami akan melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat, namun dengan penghematan alokasi dana liburan yang sangat terbatas, maka kami memutuskan untuk pergi dengan menggunakan kereta api. Karena itu pula hari pertama kami di sana cukup direpotkan dengan pemindahan wisma singgah.

Untuk memesan tiket perjalanan kereta api tidak sesulit dahulu. Kini, kita bisa memesan dan membeli tiketnya hanya menggunakan telepon genggam. Tidak harus lelah antre, hanya dengan klik tiket sudah didapatkan.

Processed with VSCOcam with f2 preset
Menukar Tiket Online di Stasiun Bandung

Perlu diketahui perjalanan ini adalah pertama kalinya kami melakukan family backpacking dimana urusan budget untuk akomodasi, transportasi, serta kebutuhan lainnya selama berwisata benar-benar dikontrol seminim mungkin. Dalam situs newmango.com disebutkan bahwa banyak sekali alasan kenapa kita harus mengajak keluarga untuk melakukan backpacking. Salah satunya adalah mengajarkan khususnya kepada anak untuk menghargai proses guna mencapai sebuah tujuan yang direncanakan.

Dengan waktu yang terbatas, kami juga harus betul-betul menentukan lokasi wisata di kota tujuan yang menjadi prioritas dan tentunya dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi umum. Candi Prambanan, candi Ratu Boko, kawasan Malioboro dan Taman Pintar akhirnya menjadi pilihan kami. Untuk lokasi wisata yang terakhir disebut sebetulnya mendadak terpilih, yang mana awalnya kami menjadikan situs bersejarah Tamansari untuk dikunjungi. Namun, karena anak kami masih belum genap dua tahun, maka Taman Pintar-lah yang menjadi pilihan alternatif penggantinya. Selain dekat, Taman Pintar juga menyuguhkan suasana wisata sambil belajar, sehingga sangat cocok bagi Anda yang juga membawa buah hati ke kota Yogya.

Hari Pertama

Kami menggunakan kereta Turangga kelas bisnis dengan harga tiket Rp 190.000 untuk dewasa dan Rp 19.000 untuk anak di bawah 3 tahun. Waktu yang akan ditempuh adalah 7 jam. Berangkat pukul 07.20 dari stasiun Hall Bandung dan tiba pukul 15.15 di stasiun Tugu Yogyakarta. Memang tidak tepat waktu sesuai dengan yang disebutkan sebelumnya, karena kereta kami berhenti selama 1 jam sebelum stasiun Tasikmalaya untuk menunggu perbaikan rel kereta yang rusak. Perjalanan cukup nyaman karena memang kelas bisnis tersebut juga dilengkapi dengan alat pendingin ruangan seperti kelas eksekutif.

Processed with VSCOcam with g3 preset
Elora Gembira Sebelum Berangkat
Processed with VSCOcam with c1 preset
Kereta Menunggu Perbaikan Rel

Selama perjalanan, saya dan istri bergantian menjaga Elora yang kala itu sangat aktif berlari-lari di sepanjang gerbong. Tanpa canggung dia menggoda penumpang lain khususnya anak-anak sebaya dirinya untuk diajak bermain. Bahkan, beberapa wisatawan mancanegara pun dia ajak berbincang. Orang asing itu terlihat kebingungan karena Elora memang masih belum fasih berbicara.

Processed with VSCOcam with g3 preset
Elora Sangat Aktif Selama Perjalanan

Tiba di stasiun Tugu kami langsung mencari loket untuk memesan tiket perjalanan pulang. Kereta kami tiba di stasiun sisi utara, sedangkan loket pemesanan tiket booking ada di sebelah selatan. Dengan sangat terpaksa kami berjalan kaki mengitari stasiun dan ujung jalan Malioboro. Cukup jauh memang, namun kami sengaja berhemat untuk tidak naik becak karena cukup mahal untuk sekadar jarak dekat. Sesampainya di loket, kami langsung merasa menyesal karena tidak sekalian memesan tiket pulang via online. Suasana loket sore itu sangat ramai, kami mendapat nomor antrean 567 sedangkan nomor urut saat itu baru sampai 70-an. Kami memutuskan untuk menuju wisma singgah terlebih dahulu dan berharap bisa memesannya melalui internet sesampainya wisma.

Inilah yang saya utarakan di awal tulisan, wisma atau homestay  yang kami pesan untuk hari pertama jaraknya cukup jauh dari stasiun. Karena awalnya kami berencana ke Yogyakarta menggunakan mobil, jadi jarak yang ada tidak dipermasalahkan. Dari stasiun Tugu, kami harus merogoh kocek 30 ribu Rupiah untuk membayar taksi ke wisma. Sebetulnya ongkos tersebut cukup adil mengingat jarak antara stasiun Tugu dan daerah Minggiran dimana wisma itu berada.

The Wayang Homestay adalah wisma pertama yang kami singgahi. Harganya terbilang murah untuk ukuran wisatawan ngeteng seperti kami. Harga permalamnya adalah Rp 175.000 dengan fasilitas televisi berbayar, ac, kamar mandi di dalam, sarapan pagi untuk 2 orang, dan tempat tidur besar. Suasana lingkungannya pun cukup bersahabat dan homie banget. Elora sangat gembira bermain di halaman wisma, dia terlihat bercakap dengan wisatawan asal Jepang yang mungkin menganggap Elora seperti anak kecil di negaranya karena bermata sipit hehehe.

20140617_075451
DI Depan The Wayang Homestay

Hari Kedua

Setalah sarapan, kami bergegas kembali ke stasiun Tugu, kami hendak membeli tiket untuk pulang ke Bandung. Sengaja kami berangkat pagi agar dapat antrean awal. Sambil menunggu, saya menyempatkan untuk booking kamar di daerah Dagen dekat Malioboro sebagai tempat singgah hari kedua. Adalah Sweet Homestay dengan harga Rp 200.000 permalam menjadi pilihan kedua tempat beristirahat di Yogyakarta. Kamarnya lumayan bagus, hanya memang tidak senyaman di The Wayang. Untuk Sweet Homestay lebih masuk ke gang kecil dan lebih sempit. Harganya lebih mahal karena dekat dengan kawasan Malioboro sebagai jantung kota Gudeg tersebut.

Tiket kereta sudah didapat, kami langsung menuju halte bis TransJogja Malioboro untuk menuju ke Prambanan dan Ratu Boko. Untuk ke sana, kita harus mengambil rute 1A yang melalui halte Malioboro-Taman Pintar-Pakualaman-JEC-Bandara Adi Sucipto-Terminal Prambanan-Plaza Ambarukmo-Stasiun Tugu-dan kembali ke Malioboro.

Menuju Halte TransJogja Malioboro
Menuju Halte TransJogja Malioboro

Harga tiketnya cukup murah, Rp 3.000 untuk sekali jalan, kita sudah bisa sampai di Prambanan. Sampai di terminal Prambanan kita akan ditawari untuk naik delman atau becak menuju gerbang Candi. Tapi, sebetulnya dengan berjalan kaki pun tidak terlalu jauh. Kami bertiga memilih untuk berjalan kaki menuju gerbang. Inilah yang membedakan turis lokal dengan mancanegara, di saat turis mancanegara memilih berjalan kaki, turis lokal kebanyakan tidak ingin susah dan memilih naik delman, padahal jalan kaki lebih seru dan baik untuk kesehatan lho.

Processed with VSCOcam with c1 preset
Elora Mejeng di Prambanan

 

Tiket masuk Prambanan berkisar Rp 30.000 dan Ratu Boko adalah Rp 25.000, namun kami menyarankan untuk membeli tiket terusan jika memang berniat mengunjungi candi Ratu Boko juga. Dengan harga Rp 45.000 kita bisa masuk ke dua candi bersejarah di jaman kerajaan Mataram. Jarak kedua candi memang tidak berdekatan, apalagi jika ditempuh dengan berjalan kaki. Namun, pengelola menyediakan angkutan shuttle bus dari Prambanan ke Ratu Boko dan sebaliknya. Armadanya cukup nyaman, kalo di Bandung seperti travel-travel jurusan Bandung-Jakarta. Jam operasional armada ini adalah pukul 07-00 hingga 16-00. Kenyang berkeliling candi-candi tersebut, kami kembali pulang menuju Malioboro dengan menggunakan TransJogja rute yang sama yakni 1A.

Selfie di Ratu Boko
Selfie di Ratu Boko
20140617_145952
Gerbang Ratu Boko

Untuk yang tak sempat membawa perbekalan makan siang, Anda tinggal keluar gerbang Prambanan dan menyebrang jalan Yogya-Solo. Di sana terdapat rumah makan padang yang berjajar dengan warung soto. Urusan harga tak usah ditanya, cukup membayar Rp 15.000 Anda sudah dapat makan nasi satu porsi dan daging rendang serta es teh manis.

Tetep Main Kereta
Tetep Main Kereta

Hari Ketiga

Hari ketiga adalah saatnya membeli oleh-oleh. Sebelumnya, kami sarapan di depan pasar Beringharjo. Dengan Rp 7.000 kita sudah bisa sarapan pecel bihun dengan gorengan. Jaraknya tidak terlalu jauh dari wisma, dengan berjalan kaki kita hanya menempuh sekitar 10 menit saja. Setelah sarapan, saya dan istri berpisah, dia ke tempat oleh-oleh sedangkan saya dan Elora pulang ke wisma untuk membereskan perlengkapan sebelum perjalanan pulang.

Karena jadwal kereta kami pukul tujuh malam, maka untuk menunggu, kami menghabiskan waktu berjalan-jalan ke Taman Pintar. Seperti biasa, kami berjalan kaki dari wisma ke tempat wisata yang terbilang baru tersebut. Untuk Anda yang membawa anak, Taman Pintar sangat kami rekomendasikan untuk dikunjungi. Namun, jika backpakering sendiri atau sekadar bersama teman, jangan harap mendapatkan pengalaman seru, karena memang Taman Pintar dikhususkan untuk anak kecil dan remaja saja. Lebih baik memilih situs bersejarah seperti Keraton ataupun Taman Sari.

DI Taman Pintar
DI Taman Pintar

Malam menjelang, kami bergegas menuju stasiun, kali ini tanpa berjalan kaki karena kami sudah cukup lelah dan memang membawa perlengkapan yang cukup berat. Setelah bernegosiasi dengan tukang becak di depan Beringharjo, dia segera membawa kami ke stasiun dengan bayaran Rp 30.000. Harga tersebut sebetulnya sangat murah karena dari titik awal ke stasiun Tugu berkontur menanjak, selain itu harga standarnya ternyata Rp 40.000. Mungkin karena kami terlihat family backpackering jadi dapat harga spesial hehe.

Perbedaan kereta api malam dan pagi adalah suhu udaranya. Anda akan sangat membutuhkan jaket sebagai penghangat agar dapat tidur dengan nyenyak di kereta, karena suhu di dalam gerbong yang berpendingin udara akan sangat terasa menusuk tulang.

Siapkan Jaket dan Alas Tidur
Siapkan Jaket dan Alas Tidur

Mungkin itu sedikit catatan perjalanan dari family backpackering kami yang pertama ini. Tahun depan kami akan melakukan perjalanan serupa dan memilih Sumatera Barat sebagai destinasi selanjutnya. Beberapa tips dari kami untuk memulai perjalanan family backpackering ke Yogyakarta adalah:

  1. Akomodasi

Usahakan untuk menginap di kawasan Malioboro, karena akses dari sini cukup mudah termasuk mencari makanan murah. Kamar seharga maksimal Rp 200.000 pun sudah cukup nyaman keluarga kecil. di Malioboro cukup banyak wisma murah dengan fasilitas yang tidak kalah dengan hotel berbintang.

  1. Transportasi

Pastikan untuk memesan tiket kereta api pulang-pergi agar tidak repot untuk melakukan pemesanan kembali, karena memesan tiket di stasiun Tugu cukup rama antreannya. Untuk berkeliling DIY, Anda bisa menggunakan TransJogja dengan harga yang murah dan nyaman. Namun, jika hendak berkunjung ke lokasi yang jauh seperti pantai-pantai di Gunung Kidul, disarankan untuk sewa mobil, khususnya untuk kenyamanan anak selama perjalanan. Diusahakan untuk berjalan kaki saja jika memang lokasi yang dituju tidak terlalu jauh. Selain menyehatkan, kita bisa banyak berinteraksi dengan warga setempat.

  1. Perlengkapan

Jika anak Anda masih balita/kecil, kita anjurkan membawa baby holder atau sejenis gendongan praktis. Sehingga kita masih bisa membawa tas ransel sambil menggendong anak. Suasana di Yogyakarta tidak sedingin di Bandung, topi atau payung menjadi barang wajib untuk dibawa. Tumbler atau wadah air sangat diperlukan jika Anda senang berjalan kaki. Satu hal, untuk pakaian usahakan untuk memakai yang mudah seperti kaos atau celana pendek serta sandal outdoor untuk berjalan kaki. Kebetulan istri saya menggunakan jilbab, dia memilih jilbab dengan balutan kain yang mudah dibuka dan juga berbahan lembut sehingga suhu di kepala tetap terjaga.

Kebanyakan pedagang di sana sudah tahu mana wisatawan backpacker dan wisatawan yang memang berekreasi. Biasanya, pedagang akan lebih ‘lunak´ jika wisatawan backpacker menawar harga ketimbang wisatawan biasa. Mereka tahu bahwa wisatawan backpacker memiliki alokasi dana yang terbatas hehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s