Life

Cerita Kopi Tumpah dan Film “Life Is Beautiful”

Film Life Is Beautiful

Sudah pernah mendengar atau membaca cerita kopi tumpah? Cerita ini sering sekali muncul di tulisan-tulisan motivasi. Saya pun membaca cerita tersebut dari sebuah email newsletter sebuah perusahaan pengembangan kewirausahaan.

Secara teori, manusia akan menyikapi sesuatu hal dengan dipisahkan oleh sebuah garis horizontal. Ada sikap orang yang di atas garis dan ada juga yang di bawah. Untuk hal ini, orang yang di atas garis cenderung akan bersikap positif ketimbang yang bawah (lihat Gambar).

Garis Sikap

 

Orang-orang yang ada di atas memiliki ownership, artinya semua yang terjadi di sekitar dirinya, dia akan terlibat untuk membuatnya menjadi lebih baik, sedangkan akuntability artinya kita bisa diandalkan untuk melakukan sesuatu, dan responsibility artinya kita memiliki tanggung jawab untuk melakukan sesuatu.

Sedangkan orang-orang yang di bawah garis akan melakukan blame, excuse atau denial. Misalnya seorang karyawan datang telat ke kantor, ia ditanyakan oleh bosnya “kenapa kamu telat?” Ia akan mulai blaming “anak saya rewel” … “istri saya telat bangunin” atau excuse “kena macet di jalan” – padahal jalan yang ia lalui memang setiap hari macet, kemudian excuse mencari-cari alasan yang tidak penting, yang lebih parah adalah denial “ah enggak ah, tidak telat kok!” Dia mengelak mengakui kalau dia telat.

Dari beberapa tulisan mengenai motivasi khususnya pengembangan bisnis, para penulis mengakui bahwa mereka tidak mendapatkan saran-saran yang praktis untuk bisnis mereka. Mereka malah diberikan cerita Kopi Tumpah oleh para mentornya. Cerita tersebut kurang lebih seperti ini:

Kopi Tumpah ini menceritakan tentang orang yang ada di bawah garis dan di atas garis dalam menyikapi sebuah problem. Cerita Kopi Tumpah memiliki setting sebuah keluarga kecil, yang terdiri dari bapak, ibu dan seorang anak perempuan masih duduk di bangku sekolah dasar.

Suatu pagi si anak hendak berangkat sekolah, si ayah juga akan berangkat untuk bekerja, sang ibu lantas membuatkan kopi. Si ibu menempatkan kopi di meja tempat si bapak duduk, namun penempatan cangkir kopi itu agak ke pinggir meja.

Si anak yang hari itu akan menghadapi ujian di sekolah begitu bersemangat karena semalam dirinya sudah belajar sebagai persiapan. Dengan yakinnya si anak turun tangga sangat bersemangat sekali sambil berucap ”Papa..papa..nanti ulangan.. ” … PRAKK .. kena kopi, kopinya tumpah … tumpah mengenai celana si bapak.

Apa yang dilakukan bapaknya? Kita simulasikan si bapak yang di bawah garis :

Sedang duduk, lalu terkena kopi, PRAKK … Anaknya seketika itu dimaki-maki “Kamu ini ceroboh sekali ! jalan saja gak bener !”

Istrinya datang, lalu dimaki pula oleh si bapak “Kamu ini juga kenapa taruh kopi di pinggir banget !?” … “Ya sudah saya ganti celana dulu di atas”

Saat si bapak ke lantai atas, jemputan anaknya untuk ke sekolah datang. Si ibu bilang kepada si penjemput “aduh pak, ini anaknya lagi nangis… nanti ya saya antar sendiri”

Si bapak tak lama kemudian turun kembali dengan celana yang baru diganti, kemudia melihat anaknya masih menangis sambil bertanya ke si ibu “lho kok dia belum sekolah ???”. Si ibu menjawab “lho kan tadi gara-gara kamu marahi dia jadi nangis ??” Kemudian dimulailah “perang” antar keduanya. Akhirnya si bapak mengalah dan mengantar anaknya ke sekolah.

Dalam perjalanan ke sekolah semuanya serba salah. Lampu merah yang kelamaan disalahkan, macet juga, dan anaknya yang masih nangis makin membuat si bapak kesal. Sampai di sekolah pun sudah telat, apalagi tiba ke kantor, makin telat. Tidak selesai sampai situ, sang bos di kantor juga bertanya kenapa si bapak telat datang. Sambil bernada kesal si bapak menjawab “kamu tidak tahu apa yang terjadi pada saya pagi ini !”

Lalu apa efeknya? Hubungan si bapak dan istrinya menjadi tidak baik. Bapaknya bisa saja dipecat dari kantor karena tidak sopan saat menjawab pertanyaan si bos. Yang lebih parah adalah si anak, dia sudah belajar gila-gilaan, karena kopi tumpah tadi dia tidak konsen ujian.

Sekarang kita lihat perbandingannya dengan orang yang ada di atas garis :

Lagi duduk, kena kopi, PRAKK … “Aaah panas-panas .. kamu sih semangat banget ! karena kamu semangat kamu harus ganti celana papa !” Ujar si bapak kepada si anak. Kemudian si anak bertanya balik “Bagaimana caranya biar saya bisa dimaafkan pah ?”. Si bapak menjawab; ”Yang penting kamu ulangan dapet 100 aja deh !”

Ini berarti si bapak memiliki rasa ownership terhadap kejadian tadi. Lalu si bapak meminta untuk dibuatkan kembali secangkir kopi dengan ucapan “Mama-mama, buatin kopi lagi dong, kopi yang penuh cinta” Maka si ibu akan senang bukan main.

Bayangkan jika mereka menyikapi sesuatu yang tidak mengenakan dengan sangat bijak, tentu harinya akan berubah total menjadi lebih positif.

Salah satu film bagus tentang berpikir positif adalah film “Life Is Beautiful” yang menceritakan bagaimana berpikir positif di titik yang paling susah dan film ini sangat saya rekomendasikan untuk ditonton. Film yang berlatar negara Italia tahun 30-an, di mana saat itu dikuasai oleh tentara Nazi Jerman. Tokoh utama di film ini kebetulan juga seorang bapak yang punya seorang anak dan istri. Si bapak itu ditangkap oleh tentara Nazi karena dia kaum Yahudi. Klimaks cerita di film ini sebetulnya ada di saat kamp pengungsian di mana suasananya saat itu sangat mengerikan. Namun si bapak terus menyikapi hal itu dengan positif termasuk menjelaskannya terhadap si anak yang masih kecil.

Tidak ada drama ‘lebay’ seperti sinetron kita, tidak ada adegan imajinatif di luar nalar, tidak ada konflik perebutan harta antar keluarga, semuanya dikemas dalam genre drama komedi keluarga yang sangat menyentuh. Pantas saja jika film yang semuanya berbahasa Italia itu menuai rating sebesar 8,4 di situs imdb.com. Sebuah angka yang fantastis yang kemudian membuat film ini wajib Anda saksikan.

Saking menyentuhnya, saya sampai menitikkan air mata pada beberapa adegannya. Tak peduli seberapa kaya atau miskin atau seberapa rupawan maupun tidaknya orangtua, si anak tetap akan menganggap bahwa kebahagiaan mereka adalah tetap menghabiskan waktu bersama orangtua. Imajinasi anak perlu diarahkan untuk hal yang lebih positif dan upaya inilah yang tidak mudah. Saya sendiri masih terjebak oleh beberapa keegoisan sebagai manusia yang mengejar keinginan pribadi. Melalui film ini, saya kembali diingatkan sekaligus diberi pelajaran berharga akan arti kebersamaan dengan keluarga bagi tumbuh kembang anak untuk menjadi manusia yang unggul dan mandiri, bukan manusia pengecut maupun pengemis. Semoga saya diberi kesempatan untuk menyaksikan anak saya bersemangat dan bahagia dalam mengejar mimpi-mimpinya.

Untuk menonton film Life Is Beautiful, Anda bisa akses melalui situs berikut:

http://nontonmovie.com/life-beautiful-1997/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s