Uncategorized

Jangan Jadi Pecundang di Alam Terbuka

Pada umur berapa Anda mampu membedakan mana yang namanya gunung, mana yang namanya pohon dan mana yang namanya mini market? Mama dan Papa adalah kata pertama dan kedua yang diucapkan oleh putri saya ketika belajar berbicara. Kata ketiga dan keempatnya ialah gunung dan pohon. Ia dapat membedakan gunung dan pohon ketika dirinya berusia 18 bulan.

 

Elora Berdiri di Gerbang Jayagiri
Elora Berdiri di Gerbang Jayagiri

Kecintaan saya terhadap alam adalah salah satu faktor penyebabnya. Saya mulai suka untuk berkegiatan alam bebas saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Hanya karena ingin tahu bagaimana rasanya memejamkan mata di puncak gunung, aktivitas tersebut kemudian menjadi kesenangan tersendiri yang dilakukan secara berulang, bahkan hingga saat ini meskipun intensitasnya tidak sesering beberapa tahun ke belakang. Ada satu kerinduan tersendiri ketika saya bisa merasakan hawa dingin yang natural dihasilkan oleh alam.

Di usianya yang ke 18 bulan, putri saya bersama ibunya diajak berpetualang ke hutan Jayagiri, Lembang, Jawa Barat. Dengan jarak yang tidak jauh dari rumah orangtua saya di Lembang, hanya butuh sekitar 15 menit untuk tiba di gerbang Hutan Lindung Jayagiri.

Tiket Masuk Hutan Jayagiri
Tiket Masuk Hutan Jayagiri

Tak banyak perbekalan yang dibawa, hanya dua bungkus nasi kuning serta satu botol besar air mineral saja yang pagi itu turut serta di dalam tas. Sebenarnya, jalur hiking di Jayagiri tidak sulit, tapi juga tidak mudah, khususnya bagi balita hehe. Sempat berhenti untuk beristirahat sebanyak tiga kali sebelum akhirnya menyerah untuk kembali pulang tanpa sampai hingga puncak Jayagiri. Selain hanya berniat untuk jalan-jalan saja, fisik dari ibunya anak saya juga tidak cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan.
Banyak sekali pengetahuan yang tidak dapat diajarkan dari dalam buku-buku pelajaran di sekolah, bisa didapatkan dengan mendekatkan diri kepada alam.

Istirahat Sejenak
Istirahat Sejenak

Pendidikan di hutan (alam) adalah proses pendidikan yang dapat mengubah pikiran atau watak seseorang karena pengaruhnya secara halus dan tak terasa. Dengan kata lain, untuk dekat dengan alam harus terlebih dahulu menyesuaikan mentalitas diri. Tidak ada cara instan untuk dapat mencapai puncak kecuali menggunakan kendaraan (pesawat).

Pendidikan Mental
Ada seorang kawan yang berucap: “Orang yang terlalu ‘rumahan’ akan jadi pecundang saat di alam terbuka” Menurutku, ada benarnya juga ungkapan dia. Biarkan anak Anda berlarian di dalam tanah berlumpur, tiduran di atas rumput, main hujan (bukan saat badai tentunya) untuk benar-benar belajar dengan ibunya yang lain, yakni Ibu Bumi (Mother of Earth).

Saatnya Makan Siang
Saatnya Makan Siang

Mental yang kuat bukan muncul secara tiba-tiba. Semua perlu upaya, khususnya dari orangtua. Tidak ada salahnya, bahkan harus menurut saya, untuk mengajarkan anak cara bertahan hidup. 30-40 tahun lagi mungkin dia akan sendiri, dia harus bisa menjalani dan meneruskan pola pendidikan seperti itu untuk menjaga mentalitas generasi penerus yang kuat.
Dia harus tahu bahwa alam bebas penuh rintangan, namun bukan berarti kita tak berhak berpikir untuk selalu dekat dengannya. Anda tentu tahu akhir-akhir ini banyak anak muda yang rela mengakhiri hidupnya hanya karena sebuah nilai secara matematis? Sungguh ironis dan orang-orang semacam ini sejatinya adalah anak yang kurang piknik. Untuk itu, mari piknik! These are things in life, yang kesannya ecek ecek, tapi bernilai mahal.

Mari Piknik!
Mari Piknik!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s