Social

Apakah Harus Membunuh?

Menyeramkan! Begitulah perasaan saya ketika melihat foto profil aplikasi obrolan digital seorang rekan. Dia memasang foto seorang perempuan korban pembunuhan. Tidak hanya kali itu saja, rekan saya yang sering bekerja bersama saat saya masih menjadi seorang jurnalis tersebut memasang foto-foto korban kekerasan, tepatnya keganasan manusia.

Semasa menjadi jurnalis, ketika melihat korban kecelakaan, pembunuhan, atau musibah lain yang menyebabkan nyawa manusia hilang, saya tidak begitu merasakan ada yang aneh. Awalnya memang ngeri tapi di lapangan mental saya ditempa untuk fokus terhadap bahan berita, apalagi jika kita berprofesi sebagai jurnalis elektronik (televisi). Dalam Jurnalisme Televisi, kita sering mendengar “gak ada gambar, gak ada berita” yang mana gambar di lokasi kejadian (termasuk suara) adalah segalanya. Ini juga yang membuat rasa ngeri tadi sedikit teralihkan.

Tangan patah hingga kepala yang terlepas dari tubuh korban menjadi hal yang biasa. Namun, setelah cukup lama saya meninggalkan profesi tersebut, rasa itu kemudian menjadi dominan. Apalagi profesi saat ini sangat kental dengan sisi humanisme, di mana saya sangat dekat dengan orang-orang yang mendambakan keharmonisan dalam berkehidupan sosial.

Menurut seorang mantan tentara Amerika Serikat sekaligus penulis buku “On Killing: The Psychological Cost of Learning to Kill in War and Society” bernama Dave Grossman menuliskan bahwa pada dasarnya manusia memiliki sifat dasar seperti primata lainnya.

Dalam kerajaan primata lain seperti kera, mayoritas para kera tersebut tidak ingin membunuh spesiesnya sendiri kecuali muncul sesuatu hal yang mengganggu.

Apabila muncul suatu hal yang boleh dikatakan mengganggu, contohnya konfrontasi antar-jenis, maka pihak oponen akan dianggap sebagai inferior dan marabahaya yang harus dilenyapkan. Oleh karenanya, perkelahian atau pertempuran kerap terjadi dan hasil dari perseteruan ini tidak menutup kemungkinan mengakibatkan hilangnya sebuah nyawa.

Di beberapa forum diskusi online juga ditegaskan bahwa sifat dasar primata adalah melindungi kelompok atau individu yang memicu konflik lalu kemudian konfrontasi muncul. Adalah menjadi logis ketika seorang perampok membunuh ketika kedapatan sedang beraksi oleh korbannya. Kondisi itu perampok merasa terdesak dan mencoba untuk ‘mengamankan’ diri dari efek yang lebih besar, contohnya masuk bui atau bahkan dihabisi oleh massa. Sifat membunuh di atas haruslah dipisahkan dari motivasi dalam melakukan perampokan terlebih dahulu. Sehingga kita tahu bahwa sifat membunuh itu mestinya bisa juga timbul dari diri kita sendiri, tentunya ketika sedang terdesak.

Dalam Islam, umat Muslim hanya dibolehkan membunuh, mengusir dan memerangi umat lain yang telah memerangi mereka terlebih dahulu dan dilarang melampaui batas. Hal ini tertuang pada salah satu ayat di dalam kitab suci (2:190).

Yang menarik lagi ada ayat yang menyebutkan; wajib melindungi orang-orang musyrik yang meminta perlindungan terhadap Umat Muslim. Di sini tegas bahwa Islam punya nilai yang selaras dengan agama lain yang tidak membenarkan adanya penghilangan nyawa manusia tanpa alasan yang betul-betul kuat. Lantas untuk apa kita saling membenci? Jika kita tahu itu akan melahirkan rasa penyesalan dan kemudian bertaubat mengharap maaf. Akhir tulis, daripada terlambat , lebih baik kita segerakan mengucap maaf kepada orang yang pernah kita sakiti secara sadar.

~Maaf… Kemudian kita nikmati kembali sisa hari ini~

Sumber:

1. Foto: http://d12vb6dvkz909q.cloudfront.net/uploads/galleries/16373/kill-bill-vol-2-2004-47-g.jpg

2. http://www.merdeka.com/teknologi/benarkah-membunuh-adalah-sifat-dasar-manusia-1-psychology-of-killing.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s