Life, Short Story

Tahun Baru dan Capcay Kuah

Ada fakta yang menyatakan bahwa tahun Masehi yang dipakai secara internasional sekarang ini ternyata bukan perhitungan tahun Masehi secara murni. Tetapi perhitungan berdasarkan Astrologi Mesopotamia yang dikembangkan oleh astronom-astronom para penyembah dewa-dewa. Maka nama-nama bulan pun memakai nama dewa dan tokoh-tokoh pencetus kalender Masehi.

Malam Tahun Baru Masehi

Jajaran café dan tempat makan lain menyuguhkan penampilan artis atau band lokal dengan membawakan berbagai lagu suka cita. Saya bisa memilih menu-menu andalan yang dipajang saat malam pergantian tahun, lalu menyantapnya sembari menikmati alunan lagu yang dibawakan saat itu. Ya, saya menyantap menu Capcay kuah serta Kwetiau dan minuman jeruk panas di warung kaki lima yang berdampingan dengan café tersebut. Praktis, alunan lagu yang dibawakan dari dalam café terdengar jelas ke warung nasgor (nasi goreng) Kang Tatang, sehingga tidak dosa jika pun saya nikmati lagu-lagu tersebut, apalagi dilantunkan oleh suara wanita yang merdu. Kang Tatang adalah pemilik dari kedai nasgor sederhana tersebut, kebetulan dia memang sejak kecil sudah menjadi warga setempat.

Foto ngambil dari gugel
Foto ngambil dari gugel

Uhuk, uhuk” Suara anak saya yang tersedak rasa pedas masakan malam itu. Tak lama, dengan meminta maaf, salah seorang pegawai Kang Tatang menghampiri membawakan tiga gelas air the hangat. Dia meminta maaf karena telah lupa untuk memberikan kami air minum yang seharusnya diantarkan sesaat setelah masakan tersaji di atas meja. “Punten kang, punten” Ucapnya dengan wajah penuh penyesalan. Terlihat dari gelagatnya pria tersebut orang yang baik dan santun, tentunya. Ujang, begitulah nama si pegawai Kang Tatang, adalah satu dari satu orang yang bekerja di kedai tersebut.

Tak lama pascakejadian tersebut, Kang Tatang bergegas menghampiri kami, lalu dia pun meminta maaf. Saya dan istri sebetulnya agak risih, karena kita menganggap hal barusan bukan lah yang patut dibesar-besarkan, sangat biasa terjadi, dan bukan juga murni kesalahan si Ujang.

Malam Minggu

Sabtu, 3 Januari, dua malam sejak malam pergantian tahun Masehi. Kami bertiga sedang meratapi hujan yang tak kunjung reda. Tiga jam, selain jeda untuk shalat, kami hanya mendengarkan gemercik air hujan yang terus turun. Selepas Isya, hujan berhenti, namun kami sudah kadung malas karena terlalu lama menunggu. Lagian, di lemari pendingin masih ada tiga butir telur ayam yang bisa kami santap bersama dengan nasi hangat dari magic jar.

“Mama mau mamam” Tiba-tiba ada suara memecah keheningan. Anak kecil terlihat merintih meminta makan kepada ibunya. Ada niat untuk langsung menggoreng telur yang tadi terpikirkan. Namun kemudian urung dilakukan karena hari ini kita ingat sama sekali belum menyentuh sayuran. Waktu untuk berpikir tidak banyak, kami harus segera memutuskan mau kemana kita malam (minggu) ini mencari makan, dan harus ada sayurnya. “Kang Tatang!” Kata istri. Tak ada pilihan lain, Capcay Kang Tatang menjadi tujuan kami. Selain dekat, juga sayurannya (konon) masih fresh dan banyak pula.

Tanpa Libur

Dari kejauhan sudah terlihat Kang Tatang sedang menggoreng menu pesanan pelanggannya. Tak lama kami makin mendekat, Ujang tampak sibuk membersihkan meja. Kelihatannya ada pasangan muda-mudi yang baru datang. Sepertinya mereka hendak ke café sebelah, namun penuh. Memang jika pengunjung di café sebelah membludak, kedai Kang Tatang selalu ketiban rejeki limpahan pengunjung yang kurang beruntung, apalagi sabtu malam seperti ini.

“Kang, Capcay kuah dua porsi, nasinya satu aja” Pinta saya kepada Kang Tatang sambil tersenyum. Sebelum kami duduk, Ujang sudah menyiapkan meja dan tiga cangkir air teh hangat. Sepertinya dia belajar dari kejadian di malam tahun baru lalu. Dengan senyum, dia mempersilakan kami untuk duduk, tak lupa kepada anak saya yang saat itu hanya clingak-clinguk menahan lapar.

Saya amati, kedai ini nampaknya tidak pernah sepi, tapi juga tidak terlalu ramai hingga sesak atau menimbulkan antrian pemesan. Dan rasanya mereka tidak pernah libur. Pernah satu kali saya pergi makan ke tempat ini sendirian, dan berkesempatan untuk berbincang dengan Kang Tatang. Karena memang mereka berdua orang sekitar situ, jadi mereka buka tiap hari, karena bukan tanpa alas an mereka masih bisa memiliki cukup waktu luang. Pernyataan yang cukup masuk akal, namun saya masih cukup senang dengan kegigihan apalagi melihat pelayanan mereka seperti halnya makan di restoran mahal. Mereka paham betul bagaimana pelanggan adalah sesuatu yang mereka anggap sakral. Mereka harus mengelolanya dengan baik, dengan persaingan yang cukup ketat. Ada sedikitnya 3 café dan 2 restoran besar berdiri di sepanjang jalan di mana kedai nasgor Kang Tatang berdiri.

Filosofi mereka cukup sederhana. “Rejeki harus dijemput Kang” Ujar Kang Tatang yang kemudian diamini oleh Ujang dengan anggukan. Khusus untuk Ujang, dia memang berbeda, selain ramah, dia sadar bagaimana perjuangan dia mengorbankan waktu ‘malam minggu’nya hanya untuk mengumpulkan perbekalan menuju hidup yang dia inginkan, tidak dengan kebanyakan anak muda yang menghabiskan waktu luang mereka hanya sekadar membakar rokok agar tetap berasap.

Rasanya perut sudah cukup terisi. Misi untuk bisa makan sayur pada hari ini telah terlaksana. Bergegas kami pulang dengan berjalan kaki, karena dalam 10 menit kami bisa tiba di depan pintu rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s