Social

Apakah Banjir Sebuah Musibah?

“Jika  kita bertahan hidup dengan bergantung dari alam, kenapa lantas kita merusaknya?” Itu adalah pertanyaan untuk saya dan dari saya sendiri. Banyak peristiwa yang mendasari pertanyaan tersebut untuk muncul, salah satunya adalah sampah yang memenuhi aliran sungai di setiap kota di Indonesia.

Kenapa sungai? Anda tahu bahwa sumber dari kehidupan adalah air. Tanpa adanya isu air, mungkin para peneliti antariksa tidak sepenasaran seperti saat ini untuk menjelajah planet tetangga kita, Mars. Bukan tidak lain, karena mereka masih waras untuk menganggap bahwa air adalah sumber dari kehidupan. 70% komponen dari tubuh kita adalah air dan manusia masih sanggup untuk menahan lapar selama satu minggu dibandingkan tidak minum selama tiga hari. Sepenting itulah air bagi kehidupan manusia dan mahluk lainnya.

Foto tempat sampah di samping aliran sungai Cidurian Bandung
Foto tempat sampah di samping aliran sungai Cidurian Bandung (dok. pribadi)

Saking berharganya air, kini banyak orang berlomba untuk menjadikan air sebagai komoditas bisnis. Triliunan rupiah mungkin telah berputar di bisnis jual beli air bersih yang mana tidak lain bersumber dari alam. Maka, apa yang seharusnya kita lakukan terhadap alam sebagai penghasil dan penjaga air?

Lantas, apa yang menjadi jalan pikiran orang untuk selalu membuang sampah ke aliran sungai? Sedangkan sungai adalah rumah dari sumber kehidupan kita? Daripada pusing karena rumit untuk mencari jawabannya, baiknya kita tengok efek apa yang paling terasa jika sungai kita kotor dan penuh sampah.

Siklus Air

Banjir adalah efek paling terasa dan cukup meresahkan khususnya bagi orang yang berada di dekat daerah aliran sungai. Bicara banjir, hampir terjadi pada setiap musim dengan curah hujan yang tinggi. Namun pertanyaannya adalah, apakah banjir bisa kita sebut sebagai musibah murni? Padahal dilihat dari prosesnya, manusia-lah yang menciptakannya. Kompleks memang persoalan dari banjir ini, tapi setidaknya kita tahu ada yang salah jika dirunut hingga ke hulu. Banjir adalah meluapnya debit air melebihi batas alami karena air hujan dalam siklus air tidak terserap dahulu di daerah serapan. Lho terus daerah serapannya kenapa? Lihat saja daerah hulu dari setiap sungai di beberapa kota besar, di mana seharusnya menjadi daerah serapan kini berubah menjadi deretan beton. Ciliwung dan Citarum adalah saksi dari sekian banyak bahwa manusia memang menginginkan banjir itu menjadi tamu langganan mereka.

Tanggap Banjir

Jika sudah terlanjur terjadi banjir, lantas apakah kita hanya akan menyalahkan? Tidak gentle rasanya jika kita hanya melimpahkan persoalan ini kepada orang lain. Tak lama setelah menuliskan beberapa paragraph di tulisan ini, seorang teman men-share sebuah tautan yang berisi video tanggap banjir. Untuk itu, segera saya sematkan sub-bahasan mengenai tanggap banjir tersebut. Awalnya saya pikir video tersebut hanya seperti video himbauan yang sudah-sudah yang isinya hanya pidato pejabat saja, eh nyatanya video itu berupa gambar komik yang disusun menjadi sebuah video ditambah suara latar yang bercerita sesuai alur gambar. Jangankan orang dewasa, anak kecil saja sudah pasti mudah untuk mencerna maksud dari video itu. Sebagai bentuk penghargaan, saya tonton saja hingga selesai video tanggap banjir tersebut.

Tumpukan Sampah di Kawasan Condet, Jakarta. Difoto dari aliran sungai Ciliwung. (Koleksi pribadi)
Tumpukan Sampah di Kawasan Condet, Jakarta. Difoto dari aliran sungai Ciliwung. (dok. pribadi)

Ada satu langkah dalam mencegah banjir yang ditampilkan dalam video tersebut yang menurut saya cukup langka terjadi di tengah masyarakat saat ini, yakni kerja bakti. Kota Bandung mungkin punya namanya GPS (Gerakan Pungut Sampah), silakan browsing jika kurang mengetahui gerakan tersebut. Tapi, kota lain yang kelihatannya adem ayem saja melihat hal ini (banjir) menjadi rutinitas yang dapat dimaklumi. Kita lupa bahwa kitalah yang ingin agar bumi yang tua ini penuh bencana. Kita tidak sadar bahwa sebagian besar yang kita lakukan adalah dalam rangka menyiksa alam, menyiksa ibu bumi agar sewaktu-waktu kehilangan kesabarannya kepada manusia.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya……..” ~ QS: Al A’raaf:56~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s