Life

Resourcefulness; Mengasah Mental

Para peserta magang dari Jepang
Para peserta magang dari Jepang

Ini tulisan pertama saya menggunakan program lain selain microsoft word. Anda bisa unduh program Abiword seperti yang saya gunakan ini di sini. Omong-omong, kalimat sebelumnya tidak berhubungan dengan apa yang akan saya tuangkan di tulisan kali ini. Sekadar informasi, belum dari seminggu sejak tulisan ini ditaut di blog pribadi, saya baru saja mendapatkan beberapa teman baru dari negeri Sakura. Tepatnya, ada rombongan MoG (Mission on The Ground) dari Very50 yang magang 11 hari di tempat saya beraktivitas.

Ada 7 wanita dan 3 pria Jepang yang membantu untuk membuat perwajahan baru (rebranding) dari tas baGoes. Bagi tim kami, fokusnya adalah memanfaatkan kedatangan mereka untuk melebarkan saya promosi ke sana (Jepang). Bukan tidak mungkin, produk baGoes berpeluang dipasarkan di sana dengan relasi yang cukup kuat serta keaktifan untuk memanfaatkan peluang tersebut.
11 hari dengan waktu yang cukup padat, saya menemukan sebuah pembelajaran yang luar biasa.

Jpeg
Proses diskusi

Bahkan, saya berpikir seharusnya hal ini saya lakukan sejak berada di bangku sekolah. Bagaimana tidak, dari sesi tersebut saya mengetahui bahwa resourcefulness adalah kunci utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan tantangan. “Panjang akal” merupakan padanan yang tepat bagi kata tersebut. Resourcefulness artinya punya kemandirian untuk belajar dan mencari solusi hingga tuntas, bukan manja, terus bertanya, dan malas mencari solusi secara mandiri.

Anda percaya bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati? Ya saya pun begitu. Ada istilah lain; Kita tidak dapat mengantisipasi semua hal, tapi kita bisa antisipasi banyak hal. Selain selalu berpikir optimis, tindakan pencegahan dengan persiapan adalah hal yang mutlak untuk dijalankan. Tanpa itu, kita adalah seperti mayat hidup yang tak punya rencana. Ironisnya, saya harus melewati keadaan tersebut selama lebih dari seperempat abad. Beruntung kemudian saya masuk ke lingkungan yang memiliki ekosistem pembelajar yang cukup kental.

Ketika seseorang sudah kehilangan semangat untuk tetap belajar, maka di situlah sinyal-sinyal menjadi mayat hidup sudah dekat. Beberapa teori motivasi juga menyebutkan bahwa self-learning motivation ini yang dapat mengantar kita ke gerbang kesuksesan. Namun, tidak jarang pula yang memang sudah berencana serta mengambil langkah, namun mundur dan putus asa ketika terbentur batu besar (saya juga pernah), yakni sebuah tantangan.

Ketika ‘Sukses’ Menjadi Komoditas
Tak jarang dari kita, termasuk saya, melihat kata sukses dan kesuksesan menjadi daya tarik untuk membeli sebuah barang atau jasa. Ingat gelang power balance? Hingga seminar motivasi dan buku-buku yang menyajikan kiat sukses dalam waktu yang singkat, yang menurut opini saya, itu adalah bentuk dari praktik ekonomi yang menjual kata sukses.

Tidak bermaksud memojokkan, namun jika merefleksi kepada pemahaman diri sendiri, sukses itu akan sangat beragam. Namun, di era kesuksesan menjadi barang dagangan, manusia dibawa ke dalam pemahaman bahwa sukses melulu dengan uang. Logisnya seperti ini, jika saya orang yang sangat kaya, maka saya akan membagikan buku-buku kiat sukses serta memberangkatkan banyak orang tidak mampu secara ekonomi untuk ikut ke seminar motivasi tersebut. Tentunya, cara ini sangat ampuh ketimbang kita hanya bersedekah saja. Lihat, akan berapa banyak orang kaya baru setelah membaca buku serta mengikuti seminar kiat menjadi sukses (kaya).

Ijinkan saya memberikan kutipan dari kitab klasik kuno dari India “Bhagavad Gita” yang sedikit menyindir;

“Banyak kunci rahasia hidup yang telah diajarkan sejak zaman dahulu kala, dan telah menjadi bagian kehidupan manusia dari masa ke masa. Tetapi mereka tidak disebut sebagai RAHASIA tanpa alasan. Kunci sukses tersebut disebut RAHASIA bukan karena hal-hal ini tersembunyi, tetapi karena sampai kapanpun hanya akan ada sedikit orang yang siap, bisa dan bersedia mendengar atau mengetahuinya.”

Jangan gantungkan kesuksesan kita sendiri kepada orang lain. Hanya kita sendiri yang dapat meraihnya. Segala macam teori kesuksesan bisa jadi pembuka jalan bagi sukses, karena bagaimanapun hanya kegigihan untuk belajar dan berusaha adalah penentuannya. Omong-omong, kalau orang Indonesia itu miskin, tapi mengapa sebuah festival internasional seperti Java Jazz 2015 dijubeli ribuan orang? Jangan pesimis dan jangan lupa piknik 🙂

Jangan lupa piknik
Jangan lupa piknik
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s