Social

Dalam Menulis Tak Perlu Bersolek

Sumber foto: latiefpakpahan.com
Sumber foto: latiefpakpahan.com

Pada suatu sore yang gelap, tak ada yang bisa banyak dilakukan selain bersantai. Sembari mendengarkan gemercik air hujan, iseng-iseng buka Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI), sebuah kegiatan yang cukup aneh kala itu yang seharusnya cukup dinikmati dengan membaca buku ringan, mendengarkan musik, makan camilan, dan tak lupa secangkir teh panas.

Saya menemukan sebuah kata yang menarik. Grafologi, adalah ilmu tentang aksara atau sistem tulisan, ilmu surat tangan; ilmu tentang hubungan antara watak dan tulis tangan (rajah). Mengapa Saya katakan menarik, karena pada tahun 1622, Camillo Baldi, seorang dokter berkebangsaan Italia menemukan sebuah ilmu baru yang mengaitkan antara tulisan dengan kepribadian penulisnya yang diikuti oleh beberapa penelitian berikutnya akan hal itu. Bagi Anda yang sedang (kembali) mencari jati diri sangat tepat untuk mempelajari ini. Semoga Anda tidak sedang tersesat hehehe.

Musik jazz kemudian dinyalakan, lengkap dengan keripik tempe kering dan secangkir teh, maklum sore itu Saya sedang berada di rumah nenek yang halaman depannya pun pemandangan sawah dengan latar perbukitan. Sangat tepat waktu itu Saya gunakan untuk melamun (tepatnya berpikir). Dari kata Grafologi Saya mengkomparasikan dengan kejadian demi kejadian yang ada di era bergegas sekarang ini. Muncul pertanyaan, bagaimana bisa kepribadian seseorang yang sangat personal bisa terlihat hanya melalui tulisan tangan?

Manusia adalah unik. Bila beberapa hewan memiliki habitatnya masing-masing, tidak dengan kita, manusia. Manusia bisa hidup di mana saja, kecuali di dalam air tentunya. Di daerah panas, hangat, hingga dingin sekalipun kita bisa jumpai koloni manusia yang bertahan hidup. Semua tersebar dengan populasinya yang cukup banyak. Dari 6 milyar manusia saja kita bisa temukan 6 milyar kepribadian yang berbeda. Introvert-ekstrovert, ceria-pemalu, pendiam-pemarah, hingga ragam jenis lainnya saling berelasi membentuk peradaban yang semakin modern.

Satu teguk teh hangat disertai bunyi telepon seluler membuat Saya beranjak membaca beberapa pesan singkat. Ya, era bergegas, jika tak lekas Saya baca dan respon beberapa pesan tersebut, niscaya Saya akan ketinggalan banyak informasi. Inilah yang kemudian disebut era bergegas. Dulu, bilamana pemerintah melakukan sebuah kesalahan, maka hanya beberapa nada protes saja yang dapat dikonsumsi publik. Kini, salah sedikit semua orang beramai-ramai menghujat, akses untuk melontarkan protes cukup gampang, tinggal ketik lalu klik kirim puluhan bahkan ribuan orang bisa membacanya.

Kepalsuan Era Baru

Di beberapa akun media sosial tentunya kita selalu menyertakan foto pribadi sebagai display picture atau sering disingkat DP. Dengan aplikasi penyempurna foto, kita bisa menghias wajah sebagaimana seharusnya seperti keinginan kita. Bersih, putih, bercahaya dan natural menjadi tren foto wajah saat ini. Selayaknya menggunakan kosmetik untuk bersolek, aplikasi tersebut sebetulnya cukup wajar diminati, bagaimanapun setiap pribadi manusia selalu ingin tampil baik di mata orang lain. Mungkin, hanya beberapa saja yang tidak peduli akan penampilan, tapi percayalah bahwa hal tersebut tentu menjadi identitas. Sebuah identitas yang juga ingin ditampilkan kepada orang lain.

Menulis, aktivitas yang sudah sangat tua dan hingga kini jutaan manusia masih melakukannya. Beserta alat dan aplikasinya, kita bisa melakukan aktivitas menulis dengan sangat mudah. Terdapat definisi yang cukup dekat antara menulis dengan mengetik. Keduanya dapat menghasilkan sebuah tulisan yang indah. Dengan tanpa memilih salah satunya, Saya tak memiliki kesimpulan bahwa Grafologi juga bisa diterapkan pada hasil ketikan. Yang pasti, kiranya perlu kita memiliki sebuah buku catatan beserta alat tulis untuk tetap melatih tulisan tangan. Karena tulisan tangan itulah yang menampilkan siapa kita sebenarnya. Sebuah kejujuran yang hanya dapat dilihat oleh penulis, ahli Grafologi, dan Tuhan. Bukan seperti bersolek menggunakan perangkat elektronik yang canggih. Mari habiskan teh hingga tegukan terakhir, lalu mulai membuat sebuah tulisan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s