Social

Kerja Santai Hanya Dalam Iklan

Sumber: govexec.com
Sumber: govexec.com

“Saya hanya bekerja, tak peduli penilaian orang…” Joko Widodo.

Pernah lihat iklan produk rokok tentang bekerja? Yang menceritakan jika lelaki itu kerjanya gak di kantor tapi sambil liburan. Membuka komputer jinjing di atas meja berbahan dasar kayu, dengan pemandangan langsung mengarah ke lautan. Tanpa kerut, yang ada hanya senyum sepanjang hari dalam mengentaskan seluruh daftar pekerjaan.

Tulisan ini (salah satunya) didasari oleh banyak hasil percakapan bersama rekan-rekan lama semasa kuliah. Dalam setiap kali pertemuan, ada satu topik wajib yang diperbincangkan, yakni mengenai pekerjaan masing-masing. Apa yang terjadi? Keluh kesah-lah yang pertama muncul daripada apa yang telah kami hasilkan dari pekerjaan tersebut. Tak terkecuali saya, setelah lebih dari lima kali berganti tempat bekerja, ada saja yang dikeluhkan.

“Capek kerja di sini, bonusnya kecil…” Kebanyakan sih sering mengangkat tema bonus, dengan atau tanpa tahu apa itu bonus. Yang ada di dalam benak, bonus adalah sejumlah uang yang akan diterima, sesederhana itu. Kalau dilihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bonus ini berarti upah tambahan, memang benar adanya. Perlu dicatat, bonus bukan termasuk ke dalam kewajiban transaksional seseorang bekerja di sebuah perusahaan. Ini menandakan bahwa uang adalah dasarnya perbincangan seputar pekerjaan.

Mengeluh dalam bekerja ini saya anggap seperti candu, sulit sekali untuk tidak memikirkannya. Jika dirunut, terdapat korelasi antara banyaknya keluhan dengan indeks kinerja. Juga, faktor yang menyebabkannya bisa beragam, ada yang memang terlalu banyak daftar kerja, ada yang memang hanya malas. Dalam buku Rumah Kedua yang memuat tulisan para karyawan PT Nutrifood akan pengalaman mereka bekerja di sana, cukup membuka wawasan, khususnya tips mengatasi kejenuhan dalam bekerja. Fasilitas kebugaran, makanan sehat, ruang rapat yang santai, menjadi salah satu pilihan dalam membentuk suasana bekerja yang menyenangkan. Dengan catatan; perusahaan mampu merealisasikannya.

Terdapat 60% dari usia kerja produktif di Indonesia adalah pengangguran. Angka yang tidak sedikit mengingat jumlah populasi negara ini yang terbilang besar. Dari angka tersebut, seringkali Saya merefleksi akan sulitnya bersaing untuk mendapatkan pekerjaan. Konon, dengan begitu kesempatan untuk mengeluh akan berkurang.

Biasanya, semakin rendah level di perusahaan, maka akan semakin sering mereka mengeluh mengenai pekerjaan. Wajar, semakin Anda tahu kondisi perusahaan, maka akan semakin Anda berupaya untuk terus melangsungkan perusahaan itu sendiri. Maka, loyalitas adalah penting untuk menjaga orang-orang terbaik di perusahaan tidak lompat ke tempat lain. Upaya menumbuhkan loyalitas ini tidaklah mudah, kepemimpinan menjadi penggeraknya, tanpa itu, mustahil akan terjadi. Menjadi bawahan memang terasa sulit, tapi menjadi atasan juga memiliki beban tersendiri. Maka, untuk mengurangi keluhan dalam bekerja adalah tetap berupaya untuk menjadi pemimpin, minimal pemimpin (bertanggungjawab) dari apa yang sedang dikerjakan.

Semilir angin berhembus bersamaan dengan burung dara-laut yang terbang rendah di bibir pantai, secangkir teh dengan roti ala raja Monako tersaji di samping alat kerja. Meja kayu dengan ornamen payung di atasnya melindungi dari terik matahari pesisir. Sungguh suasana kerja yang menawan, yang niscaya tanpa ada keluh kesah di dalamnya. Namun, itu semua hanya dalam iklan, iklan dari rokok yang setiap tahunnya merenggut 427 ribu orang di Indonesia (WHO). Jadi, apa motivasi kalian untuk bekerja?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s