Social

Selamat Minum Gorengan Nanas

Gorengan Nanas. Sumber: resepmasakanonline.com
Gorengan Nanas. Sumber: resepmasakanonline.com

“Mau teh kang?” Ucap seorang bapak berbaju oranye. Si bapak merupakan pramuwisma di sebuah kantor lembaga donor bagi komunitas usaha kecil di Jakarta.  Malam itu, kami tidak banyak bercakap, hanya secangkir teh saja sebagai media komunikasi kami.

Satu minggu sebelum kejadian di atas berlangsung, saya bersama rekan lainnya kedatangan tamu dari sebuah kampus swasta di Kabupaten Subang. Niat mereka berkunjung ke kota Bandung, tempat kantor saya berada, adalah untuk belajar mengenai inkubasi bisnis (startup). Bandung, selain Yogya, adalah salah satu pusatnya kewirausahaan di Indonesia. Dengan biaya hidup yang relatif terjangkau, Bandung menjadi magnet bagi para pengusaha muda untuk memulai bisnis mereka. Tak terkecuali dengan Greeneration Indonesia (greeneration.id), adalah satu dari sekian banyak kewirausahaan yang muncul dari iklim bisnis di kota Bandung.

Sedang Presentasi Bisnis
Sedang Presentasi Bisnis

Yang menarik adalah, ketika saya bertanya mengenai potensi kewirausahaan apa yang bisa dikembangkan oleh teman-teman mahasiswa bisnis tersebut, seorang dosen menjawab dengan pernyataan yang agak pesimistis. Menurutnya, selain pariwisata (daerah Ciater, namun dikuasai oleh pengusaha perorangan skala besar) tidak ada lagi yang bisa dikembangkan. Namun, rencana pemerintah mengalihkan kawasan Industri dari Jakarta dan sekitarnya meluas ke kota-kota lain, termasuk Subang, maka hanya di situlah potensi yang bisa diciptakan.

Kabupaten Subang akan berubah dari kota agraris menjadi kota industri. Bukan tanpa fakta, menurut data Disperindag Kabupaten Subang, sedikitnya terdapat 121 industri yang termasuk ke dalam kategori besar yang tersebar di 22 kecamatan.

Wangi teh hangat yang disajikan malam itu, mengiringi pencarian saya pada pernyataan sang dosen berikutnya. Sang dosen menambahkan, bahwa 90% dari realisasi APBD Kabupaten Subang, terserap oleh belanja pegawai. Artinya, pendapatan kota yang terkenal dengan buah nanas itu habis oleh menggaji para PNS yang berada di lingkungan Kabupaten Subang. Menurut saya, pernyataan tersebut terkesan sangat sinis, karena bagaimana mungkin satu kota hanya dipelihara oleh 10% dari pendapatan keseluruhan mereka saja?

Pencarian saya berujung pada nilai APBD tahun 2014 Kabupaten Subang, yakni 2,2 Triliun Rupiah. Artinya, bila pernyataan dosen tersebut tepat, maka untuk membayar para PNS di sana menghabiskan kurang lebih 1,98 Triliun. Wakil ketua DPRD Kabupaten Subang periode 2014-2019, Agus Masykur, mengatakan dalam sebuah berita di portal berita daerah, bahwa untuk belanja pegawai di Kabupaten Subang adalah sebesar 60% dari total realisasi APBD. Dengan begitu, masih ada 40% tersisa untuk belanja langsung guna menumbuhkan kemajuan lokal di sana.

Dengan komposisi yang lebih besar, tak heran jika setiap kali lowongan menjadi pegawai abdi negara selalu dipenuhi para pencari kerja. Jaminan akan masa depan (financial secure) adalah alasan utama mereka rela mengikuti proses panjang untuk mendapatkan kursi di kantor aparatur pemerintahan daerah.

Bagi saya, besarnya jumlah pegawai negeri serta jaminan bayaran dari negara justru akan menumbuhkan perekonomian lokal. Mereka, bagi para pengusaha, adalah target konsumen yang sudah pasti akan membelanjakan pendapatan mereka setiap bulannya. Ledakan kelas menengah di Indonesia dipengaruhi juga oleh kenaikan gaji PNS 10-15% setiap tahunnya. Daya beli mereka akan turut terdongkrak, sehingga mereka bisa dikatakan sebagai pembeli potensial bagi para wiraswastawan.

Yang perlu didorong adalah penyebaran isu yang kemudian menjadi tren untuk meningkatkan ekonomi dengan membeli produk lokal. Selain faktor ekonomi, faktor sosial juga kental dalam proses tersebut. Misalnya; seluruh snack yang disajikan dalam setiap event Pemda Subang adalah produksi lokal, contohnya keripik nanas. Maka, akan ada berapa banyak petani nanas yang bisa menghidupi keluarganya dalam setahun tersebut? Mari habiskan tehnya, selamat minum, ah tapi kurang hangat jika tak ada gorengan nanas…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s