Social

Musim Berburu

Sumber: gambarislamik.com
Sumber: gambarislamik.com

Cobalah untuk jujur pada diri sendiri, apakah kita punya sisi ketakutan di dalam hidup? Sejauh ini, saya percaya bahwa manusia itu pengecut. Setiap kita adalah sering diliputi oleh ketakutan. Nilai buruk, penampilan yang tak maksimal, adalah sekian dari beberapa bagian lain dalam hidup yang kita takuti.

Kita hanya tidak ingin menjadi manusia pecundang. Entah apapun alasannya, ketakutan selalu begitu saja hinggap. Saya sangat takut untuk menderita dan ditertawai orang lain. Saya akan merasa depresi jika orang lain menertawai apa yang menjadi kekurangan saya.  Persepsi orang lain telah menjadi tolak ukur bagi kita untuk selalu tampil sempurna.

Kita sungkan menolak ajakan ke karaoke karena takut dijauhi teman sekantor. Kita sungkan menolak segelas bir karena takut dijauhi teman sekomunitas. Kita sungkan menolak sebatang rokok karena takut dicemooh “tidak jantan.” Juga, kita benar-benar malas ketika ada kerabat yang mengajak shalat berjamaah. Tiga hari dari tulisan ini dibuat, umat Muslim akan kedatangan bulan penuh berkah. Ramadhan yang selalu menjadi euforia di media televisi melalui iklan sirupnya, hanya datang satu bulan dalam setahun. Tak perlu saya jabarkan mengenai makna bulan tersebut, namun saya katakan bahwa Ramadhan adalah selayaknya musim berburu.

Sebetulnya, jarang sekali saya membuat tulisan dengan tema reliji seperti ini. Hanya saja, beberapa hari ke belakang saya mengalami kejadian-kejadian yang membuat saya berpikir akan kemanakah pelabuhan terakhir dari setiap manusia. Hari-hari saya sebelum itu diliputi oleh hal-hal duniawi. Bahkan, lingkungan saya pun semuanya membicarakan keduniaan. Telepon genggam terkini, sepatu terbaru, baju keren, wanita super cantik, hingga perhelatan ajang pencarian bakat dengan tema hijab, yang menurut adik ipar saya tidak Islami karena bukannya baca ayat suci malah dites menyanyi, itu sangat duniawi.

Di tengah kepungan hal semacam itu, satu hari saya niatkan membeli peci. Saya bertekad satu bulan musim berburu tahun ini, saya akan membaca peci dan kita suci di dalam tas (dibaca dan digunakan tentunya). Saya tak ingin lagi takut akan persepsi orang lain akan praktik duniawi yang telah saya lakukan, namun saya ingin sekali takut jika saya tersesat dan tidak akan pernah tiba di pelabuhan terakhir nanti. Oya, musim berburu kali ini saya sedang tidak ingin mendebat urusan reliji, sadar akan keterbatasan pengetahuan, mungkin nanti saja ketika ilmu reliji saya sudah mumpuni, sekelas ustad yang bertarif Rp 70 juta pertiga jam tayang di tv, baru saya akan ikutan berdebat urusan reliji.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s