Life

Pesantren Kilat Ekologis 1436H

Foto bersama
Foto bersama

Jarang-jarang bagi kita mendengar pesantren kilat ekologis. Mendengarnya saja jarang, apalagi ikut kegiatannya hehe.  Pagi itu, tepat pada hari kesebelas di bulan Ramadhan 1436 Hijriah, saya bersama teman-teman (bagoes.co.id) pergi ke sebuah pesantren di daerah Garut, tepatnya di kecamatan Tarogong.

Jangan bayangkan seperti pesantren pada umumnya, pesantren At-Thaariq ini sangat berbeda. Tidak ada akses bagi kendaraan untuk masuk ke depan halamannya, hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua, itupun jarang ada. Sehingga, kesan alami langsung terasa begitu kita menginjakan kaki di pekarangan pesantren tersebut.

Adalah Umi Nissa dan Abi Ibank, sepasang suami istri yang mengelola pesantren ekologis tersebut. Dilabeli ekologis karena kebanyakan aktivitasnya adalah bercocoktanam ragam tanaman lokal yang tidak hanya berkhasiat, tapi juga punya nilai jual tinggi. Para santriwati (karena pesantrennya baru untuk ahwat) juga mengolah tanaman-tanaman herbal yang kemudian dijual guna memenuhi kebutuhan mereka seperti makan dan bersekolah.

Sesi belajar bercocok tanam dan mengenal ragam tanaman lokal.
Sesi belajar bercocok tanam dan mengenal ragam tanaman lokal.
Laboratorium tanaman
Laboratorium tanaman

Pesantren ini tidak besar, hanya sebuah rumah serta surau yang terbuat dari bambu yang berdiri di tengah persawahan. Oya, bukan tanpa alasan Umi Nissa dan Abi Ibank tidak membuat akses bagi kendaraan langsung ke dalam pesantrennya, mereka ingin agar pesantren tersebut tidak terganggu dan terkontaminasi suara bising serta gas karbon yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor.

Suasana di sekitar pesantren.
Suasana di sekitar pesantren.

Awalnya, kami hanya berniat untuk sekadar bermukim sembari mencari ketenangan dalam beribadah puasa di bulan suci. Namun, tak disangka, dua hari selama berada di sana justru kami mendapatkan banyak sekali pencerahan. Masih teringat bagaimana Abi Ibank menuturkan pemahaman Islam dengan sederhana dan masuk akal. Ditambah lagi adanya materi Teologi Ekologi, yang mana telah membuka cakrawala kami (sebagai pegiat lingkungan) mengenai potret ekologis yang ternyata telah digambarkan oleh Al-Quran berpuluh-puluh abad lampau.

Surau yang terbuat dari bambu.
Surau yang terbuat dari bambu.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Ar-Rum:41). Saya pribadi sedikit tersentuh, mengingat sebagai muslim justru saya baru tahu akan adanya ayat tersebut. Hal ini diakibatkan saya yang telah kehilangan identitas sebagai seseorang yang beragama Islam. Identitas itu hanya tertulis di kartu penduduk, bukan teramalkan dalam keseharian.

Menurut Abi Ibank, kita (umat Islam) telah gagal dalam hal membangun sistem pendidikan, di mana pemahaman mengenai ekologi justru dikesampingkan, ini juga termasuk di madrasah-madrasah. Mereka hanya diajarkan ibadah dan melupakan hubungan dengan mahluk lain serta alam. Tak heran jika banyak orang yang secara intelektualitas mereka cukup tinggi, namun pekerjaan mereka justru mengekspolitasi alam.  Ini karena Islam tidak dijalankan secara komprehensif. Mereka hanya memperkuat syariat saja, sedangkan aqidah serta ahlaq dianggap remeh.

Selain untuk ibadah, surau juga dijadikan ruang belajar dan diskusi.
Selain untuk ibadah, surau juga dijadikan ruang belajar dan diskusi.

Dalam buku Pintu-Pintu Menuju Tuhan, alm. Cak Nur berkata bahwa iman dan ilmu harus sejalan. Namun, bila pada akhirnya harus memilih secara hierarki nilai, maka iman menjadi primer, sedangkan ilmu sekunder. Menurutnya, lebih baik orang ‘bodoh’ namun dia beriman dengan baik daripada orang yang cerdas namun jahat. Maka sekali lagi, jangan heran hari ini kita temukan seorang yang berilmu namun gemar merampas hak orang lain, seorang ustad tenar yang mematok harga untuk ceramah, atau bahkan seorang kiai pimpinan pondok pesantren yang mobil mewahnya berjajar namun toilet untuk para santrinya tidak terurus.

Total

Umi Nissa dan Abi Ibank bisa juga dikatakan sebagai seorang aktivis. Mereka sepakat bahwa tatanan ekonomi hari ini, yakni ekonomi kapitalisme, adalah musuh Islam. Mereka ikut andil untuk merevitalisasi pemberdayaan berbasis lokal agar tidak tergantung kepada pemilik modal (penguasa). Jalan hidup yang mereka ambil, menjadi inspirasi kami bahwa perjuangan untuk membuat lingkungan hidup menjadi layak dan adil membutuhkan proses serta tekad yang konsisten, bahkan banyak yang mencemooh.

Tak hentinya ucapan syukur serta terimakasih atas dua hari yang luar biasa di pesantren ekologis tersebut. Kami mendapatkan ilmu dan menambah keimanan dengan tanpa harus menjelek-jelekan orang (golongan) lain selain dari kezaliman di muka bumi. So, apakah anda telah (ingin) menjadi seorang muslim yang sesungguhnya, atau hanya muslim tertulis di kartu penduduk saja? Jangan didebat, cukup jawab di dalam hati masing-masing hehe.

Suasana pengajian di pesantren.
Suasana pengajian di pesantren.

 

Silakan kontak FB nya Umi Nissa : https://www.facebook.com/nissa.wargadipura

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s