Social

Pesan Lebaran untuk Manusia Kota

Sumber: allianz.com
Sumber: allianz.com

“Kenapa ini jalanan macet pisan yah?” Tanya saya pada teman yang malam itu juga sedang melihat para manusia kota terjebak dalam kemacetan. Hari itu saya mendapati banyak spanduk terpampang di depan toko-toko dengan tema yang sama; Holy Sale! Alias diskon gede-gedean jelang hari raya Idul Fitri.

Anying, aing meunang Joger Pants alus ngan gocapan! –Luar biasa, saya dapat celana Joger keren cuma lima puluh ribuan-“ Terdengar obrolan dua anak muda kota yang baru saja keluar dari salah satu toko pakaian (clothing) lokal.  Siapa yang tak senang mendapatkan pakaian bagus lantas murah harganya.

Kemeriahan berburu diskon juga terjadi tidak hanya hari itu. Sehari sebelumnya beberapa rekan kerja memanfaatkan waktu istirahat untuk membeli keperluan di salah satu supermarket yang juga menggelar diskon besar. Begitupun, tempat kerja kami pun menggelar diskon untuk produk jualan kami. Penjualan meningkat akibat pesta diskon tersebut, namun tidak se-heboh diburu oleh para manusia kota karena memang produk kami menyasar kalangan terbatas.

Tuah lebaran memang menjadi daya tarik tersendiri, khususnya bagi aktivitas konsumtif. Dalam sebuah tulisan yang berjudul ‘Lumpuh’ oleh GlennMars (Anda bisa akses di sini) mengajak kita untuk berpikir lebih dalam akan aktivitas tersebut. Didukung oleh kemudahan dan fasilitas yang tersedia, semua tinggal dibeli. Ingin kepuasan birahi, tinggal ‘beli’ di tempat. Ingin furnitur model terbaru, tinggal klik. Ingin pakaian serupa dengan yang dikenakan oleh super model di majalah pria dewasa, tinggal angkat telepon. Semua hal yang memang bisa dibeli akan mudah didapatkan, hanya perlu syarat yakni; Uang dan tinggal di kota.

Efeknya? Kita menjadi mudah merasa bosan. Baru dua bulan membeli perangkat smartphone, bulan berikutnya sudah ingin beli yang baru. Seketika lupa akan kepuasan saat membuka smartphone tersebut dari dusnya dua bulan ke belakang. Kepuasan serta kebahagiaan yang terasa kemudian menjadi semu, tak kekal.

Ritual hari raya seperti biasa saja, tak ada yang istimewa. Mitos di masyarakat sejak dulu sudah menghegemoni paradigma jikalau lebaran haruslah diisi oleh aktivitas belanja. Kita lupa bahwa di bulan-bulan selain Ramadhan, kita telah juga menunaikan aktivitas belanja baju baru kan?. Lantas dimana perbedaannya? Berbicara makanan, yang spesial tersaji biasanya daging rendang, tapi bukankah kita bisa menemukannya juga di restoran masakan padang setiap hari?

Hingar bingar dunia sangat sulit untuk dilepaskan. Ritual agama dibuat menjadi komoditas. Ladang dakwah hanya berlaku di masjid saja. Jangan heran nanti-nanti ada pesta bikini menyambut Idul Fitri. Sinyal-sinyalnya telah terasa di Dubai sana. Wanita berbikini berdampingan dengan pria berjubah arab, bebas. Pakaian minim yang mudah diterawang, dibalut kain tipis melambai-lambai sembari berjemur di atas pasir pantai, sangat sulit ditolak untuk dilihat, minimal dilirik lah. Bukannya tak suka wanita, saya sangat suka sekali wanita, lekukan tubuh mereka selalu menyita perhatian –hati dan pandangan, kalau mulut sih mudah-mudahan tetap berzikir hehe-.  Tapi, begitulah yang terjadi pada manusia kota Dubai.

Saat hari rayanya, semua keluarga berkumpul. Pertanyaan yang muncul biasanya tentang pasangan, lulus kuliah, tempat kerja baru, hasil dari kerja satu tahun, kapan nikah, dan lain-lain. Langka menemukan sanak saudara yang bertanya “Ngaji Qurannya sudah juz berapa? Kalau khatam nanti dibeliin sapi” atau “Shalatnya sudah rajin?” Kalau pun ada paling cukup ditanya tentang tamat atau tidaknya puasa sambil patembong-tembong hape anyar (saling sombong hape baru). Semua pertanyaan hanya berkaitan dengan urusan dunia. Paragraf ini terkesan sok suci, ya tentunya, kapan lagi berharap ditanya hal-hal di luar prestasi dunia? Mungkin bulan depan dunia kiamat, barulah muncul pertanyaan ke-langit-an.

Tulisan selanjutnya saya akan mereview film pendek ‘The Story of Stuff’. Sebuah film semi animasi dengan balutan presentasi mengenai perjalanan sebuah barang di era industri. Dalam jaman yang serba bergegas ini, manusia perkotaan hanya memiliki tiga hal dalam meluangkan waktu; menonton televisi, berkutat dengan smartphone, dan berbelanja. Tiga aktivitas tersebut bisa dilakukan jika manusia kota bekerja lalu mendapatkan uang. Sayangnya, waktu mereka banyak tersita oleh mencari uang dan hanya memiliki tiga hal tadi untuk mencari hiburan. Termasuk dalam tradisi lebaran, manusia kota bekerja sepanjang tahun guna menabung untuk membeli buah tangan yang bisa dibawa ke desa. Belum lagi biaya transportasi yang turut mengantarkan manusia kota kembali menjadi manusia desa sementara. Di luar dari itu, apakah manusia kota masih ingat akan zakat? Apakah Anda termasuk manusia kota? Yang sudah membayar zakat fitrah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s