Uncategorized

“Hukuman” di Empat Tahun Pernikahan

image
Nongkrong di Cafe

Lilin hijau menghias meja. Di atasnya ada dua buku menu, satu tergeletak dan yang lainnya sedang dibaca.

Malam itu boleh jadi momen yang langka bagi saya dan istri. Alasannya ada dua pula; pertama, adalah hari di mana kami menikah empat tahun lalu. Kedua, suasana candlelight dinner untuk celebrating wedding anniversary semacam itu mungkin baru kami rasakan pertama kali, karena sebelumnya tak pernah dirayakan.

Dulu pernah sih, tapi makan siang, sewaktu bulan madu di Kintamani. Santap siang ditemani menu all you can eat dan lanskap pemandangan gunung Batur membuat kesan yang romantis meski tanpa lilin.

Malam itu kami tak berdua, setelah melewati empat tahun perjalanan menikah, tepatnya sejak 23 Juli 2011, kami diberi hadiah oleh Tuhan seorang anak kecil yang hari itu telah berusia dua setengah tahun. Dia kami ajak bergabung untuk turut merayakan hari jadi pernikahan. Mau tak mau harus kami ajak, meski rumah neneknya tak jauh, namun sungkan bagi kami untuk merepotkan. Mungkin dulu sempat beberapa kali, itu karena istri masih bekerja, tapi sekarang si anak kecil itu diasuh penuh oleh ibunya.

Bagi yang pernah ajak anak kecil makan di cafe tentu tahu apa yang akan dilakukan anak seusia balita. Yap! Chaos! Makan malam kami tak seindah di sinetron seperti yang diharapkan. Dia penasaran dengan lilin yang mengambang di gelas kecil, lalu ornamen cafe yang dipindah-pindahkan, dan diakhiri dengan tumpahnya jus stroberi segar (yang masih penuh) di sofa cafe.

Hati kami menyerah, malam yang seharusnya menjadi milik kami, kini telah terkudeta oleh bocah yang tak mau diam dengan sisa makanan di mulutnya. Dalam ilmu Psikologi, khususnya perkembangan anak, memang usia segitu adalah saat di mana hasrat jelajah anak sedang meningkat.

Tak heran jika dari awal berangkat hingga akhir perjalanan si bocah selalu bertanya ini apa itu apa dan lainnya. Tidak akan berhenti sebelum mengeksplorasi.

Hukuman
Kejadian menumpahkan minuman ke sofa bisa jadi puncak akumulasi keaktifan si bocah mungil malam itu.

Saya dan istri pun tak bisa menyembunyikan amarah, setelah kecewa malam kami dia rebut. Saya pun berinisiatif untuk memberikannya hukuman. Tanpa mengurangi rasa kecewa, hukuman yang diberikan kepadanya tidak lebih dari sekadar membuatnya merenung akan kesalahannya sendiri, bukan hukuman bersifat psikis dan fisik.

Ternyata, upaya mendisiplinkan tersebut lebih efektif ketimbang hukuman fisik seperti yang dikatakan oleh Dr. Paul Frick, pengajar di University of New Orleans, AS, dalam Journal of Applied Developmental Psychology yang dilansir kompas.com. Memukul memang bisa mendiamkan, namun juga dapat meninggalkan risiko faktor mental dan rasa percaya diri.

Setelah diberitahu akan kesalahannya dalam menumpahkan minuman ke sofa cafe -jus stroberi adalah minuman favoritnya- kemudian dia diberi hukuman dengan tidak dibelikan minuman yang baru. Dia hanya boleh meminum minuman yang ada di meja, di mana itu adalah milik kami dan tentunya bukan minuman favoritnya.

Cukup efektif, dengan lapang dada dia menerima hukuman atas kesalahannya. Malam itu kami lanjutkan dengan menyantap makanan yang telah dipesan, sambil menjaga si bocah agar tidak mengacau lagi.

Bagi dia kekacauan (dalam batas wajar) bukanlah sebuah aib, akan tetapi efek kumulatif dari daya imajinasi yang bertemu dengan realita-realita baru di luar dirinya.

Meski kecewa akan malam spesial kami yang berantakan, namun takkan sebanding dengan kehadiran buah hati yang ikut meramaikan perjalanan hidup kami. Selamat menjelajah dunia, selamat bergabung di dunia anak, dan selamat Hari Anak Nasional, 23 Juli.

image
Refleksi Kehidupan Anak Indonesia
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s