Travel

Rancabuaya, Destinasi yang ‘Perawan’

Menyapa Alam
Menyapa Alam

Pukul 4 subuh, Saya dan beberapa rekan membuat janji untuk bertemu di waktu yang adzan pun belum berkumandang. Dengan alasan menghindari lalu lintas yang padat, maka kami sepakat untuk bertemu di pagi buta tersebut.

Memang, jika terlambat sedikit, kami takkan kuat menghadapi kepadatan arus lalu lintas di sepanjang jalan Bojongsoang hingga Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Bukan karena manja atau takut menghadapi kemacetan, tapi jika harus berjuang sembari menunggangi motor yang berumur, ya nelangsa juga.

Berangkat dari Kota Bandung
Berangkat dari Kota Bandung

Di penghujung bulan Juli 2015, kami yang tergabung di komunitas The Syndicates (berawal dari penunggung motor vespa) berangkat menuju Pantai Rancabuaya dan Puncak Guha di selatan Jawa Barat. Rute yang akan dilalui adalah dari Kota Bandung ke Buah Batu, lalu Bojongsoang menuju Banjaran dan mendaki ke Pangalengan. Selanjutnya melewati situ Cileunca menuju Talegong, Cisewu Kabupaten Garut, dan berakhir di Rancabuaya.

Upaya kami lumayan berhasil. Pagi itu kami hanya menemukan beberapa titik kemacetan saja, selepas Banjaran menuju Pangalengan, kondisi lalu lintas cenderung sepi. Sepanjang perjalanan, kondisi aspal cukup baik untuk dilalui kendaraan. Kami melihat hanya sebagian kecil saja yang rusak, itupun akibat dari kondisi alam seperti longsor.

Pada titik KM 45, tepatnya di Situ Cileunca, Saya menyempatkan untuk berhenti sejenak sekadar beristirahat dan mengambil foto. Danau yang dibuat pada tahun 1918 ini terletak di ketinggian 1550 mdpl, wajar saja bila udaranya cukup segar.

Situ Cileunca
Situ Cileunca
Foto dulu lah

Selepas Cileunca, kita akan memasuki perjalanan dengan hamparan perkebunan teh. Saya sarankan untuk melambatkan laju kendaraan untuk menikmati pemandangan lanskap di sana. Apalah artinya jalan-jalan bila tak menikmatinya? Mungkin itu pertanyaan yang pas ketika kita melakukan perjalanan piknik.

t4 t13 t14

Jalan akan banyak menurun –meskipun masih banyak menanjaknya- selepas Talegong menuju Cisewu. Kedua daerah tersebut masuk ke wilayah Kabupaten Garut. Saya masih bingung bagaimana warga di sana mengurus administrasi? Mengingat jarak ke pusat kota Garut yang cukup…. Ah sudahlah.

Di sini kita perlu waspada, jalan berliku dan kadang menukik tanpa kita tahu kemana arahnya. Kondisi aspal yang bagus terkadang mengundang untuk membangkitkan adrenalin memacu mesin agar lebih cepat. Namun, kesan perjalanannya tak akan terlupakan karena kita akan melewati hutan yang masih ‘asri’ –sudah ada penambangan liar- dan juga suasana hangat pedesaan khas daerah tropis.

t8
Jalan berliku

Tak perlu khawatir untuk mengisi bahan bakar, karena sepanjang jalan menuju Rancabuaya terdapat depo pengisian bahan bakar eceran, atau disebutnya Pertamini karena bentuknya tak sebesar pom bensin di kota.

Setibanya di Rancabuaya, kami berbelok dahulu ke Puncak Guha. Bila hanya untuk melihat samudera, spot di Puncak Guha cukup bagus, namun sayang tidak terawat. Banyak Saya menemukan sampah plastik dan botol berserak, padahal di depan kita diharuskan membayar Rp 5.000 perorang (lha uangnya dipake untuk apa tho? Isi perut saja?).

t12 t11

Sampah di pantai
Sampah di pantai

Sore telah menjelang, kami berbegas menuju Pantai Rancabuaya –di sini juga harus membayar Rp 5.000 untuk sekali masuk saja- untuk menyiapkan shelter menginap. Kami menyewa sebuah saung/gubuk di bagian pojok. Cukup mengeluarkan Rp 200.000 untuk satu saung/gubuk selama 3 hari dengan kapasitas maksimal 10 orang dan sisanya mendirikan tenda tak jauh dari situ. Sangat murah mengingat kami juga mendapatkan fasilitas kamar mandi di warung pemilik saung/gubuk selama berada di sana.

Usah risau dengan urusan perut, di luar kawasan pantai kita bisa mencari warung-warung nasi sederhana yang harganya masuk akal. Selain itu juga ada beberapa minimarket yang berdiri di kawasan wisata tersebut.

Barbeque-an di pantai
Barbeque-an di pantai

Jangan malas untuk jelajah semua lokasi yang ada di sana. Kebanyakan masih ‘perawan’ dan belum banyak orang yang tahu. Sayang memang pemerintah daerahnya terbilang lambat dalam mengelola potensi wisata tersebut. Sehingga pengelolaan swadaya oleh masyarakat malah terkesan ngasal. Saya sih yakin, jika kawasan ini diberdayakan, maka akan menjadi destinasi andalan baru selain pantai-pantai di selatan Jawa Barat lainnya seperti Pangandaran atau Pelabuhan Ratu.

AoP_7vjUF6YiSa4gUjeTgbYnRLirCf-NlXBTqabLxf1E t18 t17 t16 t15 t5 t6

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s