Social

Generasi Paling Digital

Sumber foto: google image
Sumber foto: google image

Di awal semester dua tahun 2015 ini Indonesia diramaikan salah satunya oleh informasi mengenai nilai tukar Rupiah yang terus menurun. Perlahan tapi pasti, nilai tukar mata uang nasional terhadap Dolar Amerika Serikat tergerus memprihatinkan.

Muncul kemudian sentimen kepada pemerintahan yang saat itu dikuasai oleh Koalisi Indonesia Hebat. Beberapa simpatisan dari kubu yang kalah pada pemilu sebelumnya banyak yang bereaksi. Khusus pada isu melorotnya nilai Rupiah, mereka menyalahkan kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintah berkuasa menjadi penyebabnya. Menurut saya ini wajar, selain memang kondisi ekonomi sedang lesu, peta politik kita telah banyak berubah dengan hanya mendapati persaingan tidak lebih dari dua kubu saja, berbeda dengan era sebelumnya. Begitu ada celah untuk mengkritik, maka di situ akan menjadi gulungan isu yang kemudian membesar.

Namun, itu bagi orang awam (kebanyakan hanya mengekor). Berbeda bagi pelaku usaha, baik skala kecil maupun industri, pastilah tahu mengenai perubahan waktu penetapan APBN tahun 2015. Pemerintah berkilah memang ada keterlambatan dalam penentuan APBN. Ini berimbas kepada tertahannya uang belanja negara yang sebagian besar justru diputar di dalam negeri. Cukup masuk akal bukan? Ekonomi lesu ya karena pemerintah gak belanja, beberapa sektor ekonomi langsung terkena imbas dengan menurunnya order.

Lucunya, yang ‘berisik’ di media sosial itu bukan yang termasuk golongan masyarakat tak mampu. Namun tak sedikit yang protes di media sosial karena rasa solidaritas bagi masyarakat bawah, ini juga patut diapresiasi (asalkan gak asal koar-koar). Hal ini adalah realita sosial yang berasal dari efek digitalisasi kehidupan bermasyarakat. Istilah kerennya adalah Generasi Millennial yang akan saya ulas berikut ini.

 Paling Digital

Generasi Millenials, atau biasanya dikenal juga dengan generasi Y, adalah generasi yang secara umum lahir di tahun 90-an. Umumnya mereka masuk kepada kelompok masyarakat berusia produktif, populasinya cukup banyak, termasuk saya di dalamnya (tak sudi masuk ke kelompok Baby Boomers).

Bila dikategorikan, sebelum generasi ini ada generasi X yang lahir di era serba pop. Kemudian sebelumnya ada generasi Jones lalu ada generasi Baby Boomers. Mungkin kakek saya masuk ke dalam generasi Baby Boomers, dimana mereka berkutat dalam aktivitas menata pranata sosial yang hancur sehabis perang dunia dan kekacauan (semoga tidak ada perang dunia ketiga di generasi Z).

Semua serba terkoneksi, ini tidak dikenal di beberapa dekade ke belakang. William Deresiewics (2011) menyebut generasi millennial sebagai generation sell. Tentunya ini turut dipengaruhi berbagai kemudahan tersebut. Bahkan cultural hero dari generasi ini adalah entrepreneur, sebut saja Steve Jobs atau Mark Zuckenberg. Selain menjual dalam arti sebenarnya (produk atau jasa), generasi ini juga menjual diri sendiri lewat citra. Mereka terhubung melalui jaringan atau web. Mendengarkan musik streaming, menonton televisi secara online, hingga berbicara dan mengirim pesan melalui telepon genggam pintar.

Sumber foto: google image
Sumber foto: google image

Sebagian orang juga mengatakan bahwa generasi ini adalah generasi why? Segala sesuatu yang tak masuk logika akan dipertanyakan. Tentunya karena mereka bisa sangat mudah berinteraksi satu sama lain. Misalnya, seorang walikota bisa menjawab langsung pertanyaan warganya di media sosial. Ini takkan terjadi di era kolonial, dimana semua sibuk dengan kekacauan dan peperangan, hirarki kelas menjadi sangat jelas, bahwa yang lemah sudah pasti tertindas secara fisik dan ekonomi.

Dunia marketing pun turut berubah. Sebuah merek tidak hanya memiliki arti penting bagi produsen, namun juga bagi konsumen. Uniknya, saat ini hubungan antara merek dengan konsumen terjalin semakin dini. Bila dahulu orang hanya memperhatikan merek saat mereka telah dewasa, kini hampir semua anak-anak juga telah menjadi brand-conscious saat menggunakan sebuah produk. Contohnya anak saya yang berusia dua setengah tahun, bila melihat apapun yang berbau film Frozen, pasti dia meminta untuk dibelikan. Sprei di kasur saya pun sudah dikudeta menjadi aroma Frozen, oh God. Inilah keberhasilan pemasaran era digital.

Pemanfaatan media sosial menjadi penting. Dalam buku Orange Economy, disebutkan data pemasukan industri hiburan dalam satu dekade terakhir di New York dan London saja sudah setara dengan proyek bendungan terbesar di dunia yang ada di Cina, padahal untuk membuat bendungan itu butuh waktu 50 tahun. Profesi yang sedang laris ya orang-orang yang paham teknologi informasi. Sekarang, belanja sayur saja sudah bisa menggunakan aplikasi mobile, udah gitu pakai gambar dan video lucu-lucu-an segala, pantas tukang sayur keliling makin merengut terus, lha secara tampilan mereka gak menarik kok hehehe.

Semua berkaitan dengan teknologi, kita tak bisa membendung tuntutan generasi ini yang harus selalu terkoneksi secara cepat dan tanpa batas. Mengabaikan suara Millenials dalam kegiatan industri dan budaya sangat berisiko. Terutama bagi yang memiliki target pasar para usia muda, sebaiknya mendengarkan apa yang mereka inginkan, bukan butuhkan. Mereka akan lebih percaya kepada sebuah brand yang terbuka, bahkan dalam mengakui kesalahan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, mereka percaya apa yang menjadi keriuhan di media sosial saat itu sehingga ini melahirkan konsep pemasaran yang melibatkan konsumen sebagai advocator sebuah merek. Ya karena generasi ini adalah yang paling digital disbanding generasi sebelumnya.

 Kesadaran Sosial

Pernah dapat pesan berantai mengenai permintaan donor darah? Yap! Itulah salah satu aksinya. Banyak yang secara sukarela membantu meringankan penderitaan orang lain dengan turut menyebarkan informasi, meski banyak juga yang tak peduli apakah stok darahnya sudah didapatkan atau tidak, yang penting aksi dulu, menunjukkan kalau mereka peduli akan sosial.

Kelemahannya, mereka akan lebih percaya dan membaca konten media sosial karena lebih interaktif ketimbang buku yang penuh teks. Esensi akan sesuatu menjadi semakin kabur begitu mereka ditanya mengenai detail-detail apa yang mereka lakukan (baca: bagikan), karena bergerak secara spontan. Buku apa yang terakhir Anda baca? Masih ingat isinya? (Tadinya mau nanya; kapan terakhir baca Quran? Hehehe).

#1Minggu1Cerita

Sumber:

Deresiewicz, William. (2011). Generation Sell. Diambil dari news.indonesiakreatif.net.

linimasa

marketeers 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s