Social

Makna Kemerdekaan dalam Film “Little Boy”

Sumber: Google Image
Ilustrasi

Jika membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk mencari kata liberal dan merdeka, kita akan menemukan rujukan kata yang sama; bebas. Dalam arti yang cukup radikal, kata merdeka dikatakan tidak tergantung pada siapapun. Secara logika, saya sangat bisa mendebat arti tersebut, karena sejatinya manusia diciptakan dengan berpasang-pasangan [QS. Al Hujuraat (49):13]. “Lita’arafu” begitulah dalam kitab suci disebutkan agar saling kenal dan akrab, maka sudah pasti satu sama lain akan saling membutuhkan.

Merdeka identik dengan terlepas dari penjajahan. Merujuk pada sejarah, ini pun banyak versi yang mengemukakan perihal negara ini mendapatkan kemerdekaannya. Dunia memang sedang kacau saat itu, atau sedang berada pada puncak perang dunia kedua. Silakan mencari referensi sendiri terkait hal tersebut, karena terlalu berat jika dibahas di tulisan ini hehehe.

Minggu malam sebelum hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70, saya bersama istri dan anak menonton sebuah film arahan sutradara Meksiko Alejandro Monteverde yang dilansir Warner Bros. Film berdurasi 106 menit ini bercerita tentang seorang anak kecil yang siap melakukan hal apapun untuk menghentikan Perang Dunia II agar bisa membawa kembali ayahnya yang sedang berperang pulang ke rumah. Bagi yang suka drama keluarga, film ini harus Anda tonton.

Poster Film Little Boy
Poster Film Little Boy

Kemerdekaan

Saya tidak akan menceritakan lebih lanjut akan alur cerita film berjudul Little Boy tersebut. Namun, ada beberapa nilai yang bisa dihubungkan dengan makna kemerdekaan, apalagi saat tulisan ini dipublikasikan di blog saya, Indonesia sedang hajatan atas kemerdekaannya. Beberapa nilai yang saya serap adalah sebagai berikut:

  1. Cinta

Ikatan cinta, selain kepada Tuhan dan Nabinya, manusia punya cinta yang sangat besar terhadap keluarganya. Bisa dikatakan untuk kecintaan dunia, hubungan cinta anak dan orangtua adalah yang paling utama. Pepper, si bocah yang sangat ingin berjumpa dengan ayahnya yang pergi berperang, bertekad melakukan apapun untuk membawa ayahnya pulang. Dia juga berteman dengan orang yang tidak popular bahkan dibenci (tanpa alasan yang jelas). Maka, cinta setelah kepada orangtua/saudara adalah kepada teman, teman yang tulus. Di film ini saya menemukan hal menarik, bahwa untuk mendapatkan teman yang betul-betul teman, kita harus membuka diri kita terlebih dahulu untuk menjadi seorang teman yang betul-betul teman, Law of Attraction lah kerennya mah.

Mencintai sanak saudara, sahabat dan sesama adalah refleksi dari cinta kepada tanah air, karena kita hidup di tanah yang sama. Pertanyaannya; Apakah orang yang dianggap kafir/sesat hanya karena berbeda keyakinan dengan mayoritas itu tidak berhak mendapatkan kemerdekaannya?

  1. Tekad

Meski sering dicemooh, Pepper yang memiliki kelainan bertubuh mungil tetap fokus kepada apa yang dia inginkan. Tidak seperti anak-anak lainnya, dia tidak manja karena sesuatu hal yang tidak bermakna bagi dirinya. Dia tak berhenti hanya karena gagal dalam percobaan pertama, dia terus mencobanya meski itu sangat mustahil. Namun, karena kita mahluk sosial, sesuatu yang tak masuk akal kadang justru bisa terselesaikan dengan cara yang paling sederhana, kuncinya hanya satu; tekad. Tanpa punya mimpi dan tujuan, kita hanya akan menjadi manusia dungu yang berlari ke sana ke mari tanpa punya makna hidup. Tekad di film ini bukan uang, tapi hal yang sederhana, yakni keluarga. Maka wajar jika jalan cerita di film ini minim sifat ketamakkan.

  1. Iman

Dalam KBBI, iman adalah kepercayaan kepada Tuhan dan Nabinya. Iman tidak ada urusannya dengan cara ibadah orang lain, melainkan murni keyakinan seorang hamba dengan Penciptanya. Tuhan di sini saya ganti dengan sesuatu yang maha besar, agar lebih universal. Setelah bertemu dengan seorang pendeta, Pepper diberi daftar hal-hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan keimanan, karena menurut pendeta, jika kita ingin sesuatu yang sangat mustahil, maka kita harus memperbesar kadar iman kepada sesuatu yang maha besar, pemilik semua alam.

Ini menarik, nilai-nilai universal yang ada di setiap agama pun pasti mengajarkan hal itu. Meningkatkan keimanan ini kadang dianggap bodoh karena percaya akan sesuatu yang tidak kasat mata. Namun di film ini hal mustahil tergambarkan dengan sesuatu yang sangat sederhana dan logis, mungkin itulah yang terjadi jika manusia benar-benar bertekad memperdalam keimanannya.

Menariknya, film yang diproduksi di negara yang selalu kita cap liberal ini justru menerapkan nilai yang luhur. Entahlah jika ada maksud terselubung seperti misionaris atau apapun itu, biarlah Tuhan yang urus.

Merdeka menurut pemahaman saya tertuang pada nilai-nilai di atas. Merdeka adalah cinta, merdeka adalah tekad, merdeka adalah iman. Jika kita merasa sudah merdeka, maukah kita membantu memerdekakan yang belum merdeka?   

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s