Life

Keraguan tanpa Paksaan

Keraguanku
Keraguanku

Tak kurang dari lima belas menit, saya berniat membuat sebuah tulisan. Meski pada nyatanya ada tambahan lima belas menit selanjutnya yang dihabiskan untuk mengetik. Semoga Anda tak sungkan meluangkan waktu hanya lima belas menit untuk membacanya.

Adakah kesalahan yang diikuti banyak orang? Pernahkah Anda melanggar rambu lalu lintas dan diikuti oleh banyak orang di belakang Anda? Apakah orang-orang itu tahu bahwa hal tersebut salah? Apakah sadar melakukannya? Mengapa mereka melakukannya? Apakah mereka sedang mengejar sesuatu yang lebih prioritas? Lalu apakah prioritas diantara mereka memiliki kesamaan sehingga melakukan pelanggaran berjamaah?

Dalam kehidupan bermasyarakat ada yang namanya stratifikasi atau pelapisan sosial. Hadirnya pelapisan sosial memiliki implikasi positif dan negatif. Namun, adanya heterogenitas manusia sudah pasti penyebab dari adanya perbedaan kelas tersebut.

Dari konsep tersebut muncul kemudian kata mayoritas dan minoritas. Lalu pertanyaannya, apakah yang mayoritas selalu benar? Kembali pada ilustrasi pertanyaan di paragraf dua tulisan ini, maka kebenaran belum tentu diikut oleh yang mayoritas.

Adanya pelapisan sosial tentu juga menimbulkan diskriminasi yang memojokkan sisi kemanusiaan. Berkaitan dengan diskriminasi atas nama kelas sosial, ada sebuah puisi yang sangat indah dari seorang anak kecil asal Afrika. Puisi tersebut sempat dinominasikan sebagai puisi anak terbaik dunia tahun 2005. Saya mengambilnya dari salah satu buku karya Miftah F. Rakhmat;

Kau panggil aku berwarna, padahal waktu lahir aku hitam. Tumbuh besar, aku hitam. Main di bawah matahari aku hitam. Ketika ketakutan, aku hitam. Saat sakit, aku hitam. Manakala aku mati, aku masih tetap hitam…

                Sedangkan engkau, sahabat kulit putihku. Waktu lahir kau berwarna merah muda. Tumbuh besar kulitmu memutih. Berjemur di terik matahari kau memerah. Kedinginan, kau jadi biru. Ketakutan, pucat pasi menguning. Kesakitan, kulitmu hijau, dan waktu kau mati, kau kelabu… Lalu, kau panggil AKU si berwarna?   

Gelisah

Kalaupun Tuhan mau, tentu Dia akan sangat mudah membuat manusia tidak memiliki perbedaan pendapat. Dia juga akan sangat mudah menciptakan semua mahluk yang selalu memujaNya, tak ada satupun yang nakal (maaf buat yang masih nakal). Namun yang terjadi justru sebaliknya, sehingga kita mesti kembali bertanya apa sebetulnya maksud Tuhan menciptakan keberagaman. Mengapa Tuhan juga mengutus manusia yang memiliki kehendak bebas dalam memilih untuk membangkangNya.

Ada kelompok yang mengklaim bahwa Tuhan hanya milik mereka. Adapula kelompok yang tidak mengakui bahwa mereka diciptakan oleh Tuhan. Ada kelompok yang hanya ingin mendekat kepada Tuhan. Adapula kelompok yang kesenangannya adalah berjauhan dari cahaya Tuhan. Semua memiliki pilihan yang terbuka, sehingga membuat gelisah mencari jawaban untuk apa gerangan kita berada di kehidupan hari ini. Apa manusia bisa tercipta dengan sendirinya tanpa ada campur tangan Tuhan? Jika Anda percaya Tuhan, apa Anda selalu membangkangNya? Masih adakah keinginan untuk kembali menyapaNya? Atau jika pada akhirnya Anda memilih tak percaya Tuhan dengan penuh keikhlasan?

Sumber:
1. http://mixcustom.blogspot.co.id/2010/12/persamaan-derajat-dan-pelapisan-sosial.html#ixzz2HHotRAe3

2. Rakhmat, M. (2014). Kidung Angklung di Tanah Persia. Bandung: Nuansa Cendekia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s