Di jaman kerajaan Majamanis berkuasa, ada dua pendekar yang paling tersohor. Pendekar pertama bernama Wiro Waras, dia terkenal akan keahliannya membunuh hanya dengan menggunakan keris. Wiro, merupakan pemuda asli desa Sidongumpet yang merupakan desa paling selatan di wilayah kerajaan. Pendekar selanjutnya Sinto Eling. Pemuda gagah asal desa Tolak Gembira adalah seseorang yang ahli memainkan golok, bahkan sanggup menghabisi lawan hanya dengan sekali tebas. Kedua desa tersebut berjauhan, desa Tolak Gembira ini berada di utara. Namun, mereka sudah mendengar akan kesaktian satu sama lain dari obrolan masyarakat yang tersebar.

Persaingan terjadi dalam mengumpulkan jumlah musuh yang telah mereka bunuh. Ketika salah satu dari mereka telah menghabisi nyawa seseorang, mereka langsung mengutus pembawa berita untuk menyebarkannya. Tujuannya, ya tentu saja agar sang rival gentar. Tanpa dikomando, tampaknya mereka saling berkompetisi untuk menunjukkan siapa pendekar yang terbaik di kerajaan Majamanis.

Pada suatu malam, tepat sehabis Wiro Waras membunuh seorang perampok yang mengganggu desanya, dia membayangkan jika nanti dia akan berduel dengan Sinto Eling. Ternyata itu juga yang menjadi pikiran Sinto, hampir setiap malam dia menginginkan hal serupa, yakni sebuah pertarungan nyata yang dapat membuktikan siapa pendekar yang paling jago di kerajaan yang dipimpin oleh Ratu Atit itu.

Singkat cerita, peristiwa yang ditunggu-tunggu tiba. Tanpa ada rencana sebelumnya, kedua pendekar gagah tersebut saling berpapasan di sebuah hutan yang terkenal angker. Di saat yang sama, masing-masing dari mereka telah menyelesaikan pertarungan dengan musuhnya.

Dari kejauhan Sinto yang identik dengan baju warna putih gadingnya melihat sekelebat pemuda berbaju merah. Ternyata itu adalah Wiro Waras, si jago keris yang terkenal itu. Dan sebaliknya, Wiro Waras menyadari bahwa dari kejauhan tampak seseorang yang selama ini membuat penasaran dirinya, Sinto Eling, pendekar golok bergagang macan.  Dan apakah yang akan terjadi selanjutnya?…

The Healing Power of Humor

Jauh beberapa abad ke belakang, para ilmuwan dan dokter telah menelaah mengenai pengaruh tertawa dalam proses penyembuhan. Norman Cousins, pendiri psikoneuroimunologi –sebuah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari pengaruh gejala-gejala mental terhadap sistem imun, menemukan bahwa tertawa beberapa saat membuat kita lebih sehat, sama seperti yang diakibatkan oleh olahraga. Secara ilmiah tidak akan dijelaskan di sini, namun Cousins menambahkan bahwa sepuluh menit tertawa dapat meredakan rasa sakit sama dengan paling sedikit dua jam tidur yang baik. Lebih dari 10 menit saya kira malah akan membuat otot wajah dan rahang menjadi pegal.

Tertawa ini termasuk ke dalam emosi positif dari kebahagiaan. Pertanyaannya, apa yang sering/dapat membuat kita tertawa? Setiap orang punya jawabannya, termasuk saya. Pada abad ke 13, para filsuf dan teolog yang bergulat dengan moralitas dan agama memang memandang bahwa humor adalah sebuah kesenangan yang jahat di atas penderitaan orang lain. Ini bertentangan dengan hasil penelitian di atas, tapi juga ada benarnya. Saya jadi ingat kelakuan saya yang sering menertawakan kekurangan fisik dan mental orang lain. Hal-hal yang dianggap kekurangan dalam hidup tersebut kemudian memang populer menjadi bahan candaan. Dia gendut, dia kurus, dia berhidung pesek, dia sipit, dia banci, dia hitam, dia jelek. Semua subjek dilekatkan pada objek di luar diri kita sendiri.

Dalam bahasa kita, bahan yang membuat tertawa itu cukup banyak. Contohnya: candaan, senda-gurau, lelucon, kelakar, olokan, guyonan, heureuy, dan lain sebagainya. Masing-masing punya arti dan aktivitas yang berbeda. Secara agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan mengharuskan kita untuk memilih bahagia. Namun, kita juga harus memilih apa yang akan menyebabkan kita tertawa, apakah melalui candaan atau ejekan? Sudikah kita mengejek diri kita sendiri? Sempatkah kita menertawakan diri kita sendiri? Apa yang kita tertawakan dari diri kita? Apakah Tuhan serta para malaikat pernah juga menertawakan kita? Sebagai catatan, penyakit itu tak hanya yang berada pada fisiologis kita saja, ada juga penyakit yang tak tampak seperti penyakit hati (apakah bisa disembuhkan dengan tertawa?).

Wiro Waras dan Sinto Eling akhirnya berjumpa. Perjumpaan mereka seharusnya menjadi ajang pembuktian akan siapakah pendekar sejati. Tak lama keduanya semakin mendekat, tatapan mereka fokus kepada pergerakan satu sama lain, alih-alih sebagai antisipasi bila salah satu dari mereka mengeluarkan jurus secara tiba-tiba. Semakin mendekat, suasana di hutan tersebut semakin mencekam. Dan terjadilah percakapan diantara keduanya sebelum memulai pertarungan.

Wiro Waras: “Wahai kau pemuda berbaju putih, apakah kau Sinto Eling?”

Sinto Eling: “Betul! Lalu apakah kau Wiro Waras? Sang fenomenal pendekar keris?”

Wiro Waras: “Tepat! Kau tahu ini apa?” Wiro mengacungkan keris saktinya.

Sinto Eling: “Tentu aku tahu! Dan kau tahu ini apa?” Sambil acungkan golok.

Wiro Waras: “Tuker tambah??”

Sinto Eling: “Hayu! Jadi!”

(Dikisahkan oleh almarhum Kang Ibing)

Sumber:

  1. Jalaluddin Rakhmat. Meraih Kebahagiaan. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2012, hlm 69-90.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s