Adakah jasa kursus mempertahankan kesetiaan? Kalaulah ada, mungkin banyak orang yang mendaftarkan pasangannya untuk ikut kelas kesetiaan. Karena dalam sebuah hubungan, hakikatnya adalah saling menyatakan dan melaksanakan janji setia.

Secara personal, saya menyatakan untuk setia kepada istri tidak pada saat ijab kabul, karena itu hanya pernyataan administratif kepada keluarga dan negara secara agama. Namun, pada malam pertamalah janji kesetiaan itu diucapkan, setia kepada pasangan yang secara sadar kita pilih, begitu juga sebaliknya. Itulah luapan emosi kesetiaan yang harus dijaga apinya agar tidak padam. Ingin tahu hangatnya malam pertama yang dimulai dengan ritual pengucapan kesetiaan? Lakukanlah dengan pasangan yang sah hehehe.

Dalam agama saya (Islam), melakukan hubungan intim tidak serampangan, ada adab yang harus dihormati. Itulah mengapa malam pertama menjadi begitu sakral, karena agama turut mengajarkan penerapan kesetiaan salah satunya melalui bentuk berhubungan badan. Masing-masing mazhab punya aturan sendiri terkait jima’ (berhubungan suami istri), namun tidak akan saya lanjutkan pembahasannya karena khawatir mengundang fantasi pasangan muda hehe.

Dasar dari hubungan suami istri adalah setia, sang suami tidak akan ‘mendatangi’ perempuan lain (kecuali yang sah) selain istrinya. Begitu juga sang istri yang tidak membolehkan pria lain ‘mendatangi’ dirinya selain suaminya yang sah. Untuk itu, kesetiaan adalah sesuatu yang tak nampak bukan? Kesetiaan dapat ditutupi pada penerapannya, bisa saja salah satu dari suami atau istrinya berselingkuh namun dia berbohong kepada pasangannya. Namun kesetiaan itu sendiri tidak dapat dibohongi karena adanya di dalam diri masing-masing.

Kesetiaan tidak melulu ada pada pasangan yang saling mencinta, tapi juga pada hubungan lain seperti anak kepada orangtuanya, sahabat kepada sahabatnya, keluarga kepada keluarganya, umat kepada nabinya, serta hamba kepada Tuhannya.

Hari ini, 24 Oktober 2015 atau bertepatan dengan 10 Muharram 1437 Hijriah, ada sebuah ritual akan kesetiaan, khususnya di kaum muslimin Syiah. Apa itu? Adalah peristiwa syahidnya cucu Nabi Muhammad, Imam Hussain, di padang Karbala (Irak) yang berperang menolak kezaliman penguasa. Cerita lengkapnya tak saya jelaskan di sini dan bisa dicari sendiri, namun harus hati-hati dengan sumbernya karena banyak yang berbeda. Intinya, yang menyangkut dengan kesetiaan pada peristiwa itu adalah bagaimana para pengikut Imam Hussain, yang terdiri dari anggota keluarga terdekat serta kerabat Nabi Muhammad yang berjumlah 128 orang tak gentar menghadapi pasukan musuh dengan jumlah 4.000 pasukan. Itulah bentuk kesetiaan, tak peduli tersakiti, tak peduli tersiksa bahkan rela menyerahkan nyawa sebagai tebusan. Kalau tak setia, mungkin mereka sudah bubar menyelamatkan diri sendiri.

Peringatan Asyura di Stadion Persib Bandung 2015
Peringatan Asyura di Stadion Persib Bandung 2015 (dok. pribadi)

Hingga kini, peringatan mengenang peristiwa tersebut masih dilaksanakan. Kaum muslimin Syiah menyebutnya dengan peringatan Asyura. Meski selalu diliputi oleh teror dan ancaman, tak menghentikan para pecinta Ahlul Bait (keluarga Nabi) ini melaksanakan kegiatan tersebut, ya tentunya karena mereka setia. Seperti yang terjadi di Karbala sendiri, setiap tahunnya jutaan orang melakukan ziarah ke makam sang Imam, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga para manula berkursi roda turut dalam iringan ziarah. Para penduduk lokalnya pun tak segan menjajakan makanan dan minuman gratis untuk para peziarah dan uniknya tidak pernah terjadi tragedi kerusuhan. Mengapa? Itulah bentuk kesetiaan, bahwa cinta sudah semestinya berkaitan dengan kedamaian atau dalam bahasa Arabnya adalah tawalla (kecintaan) bukan tabarra (kebencian). Memang, bila cinta mestilah selalu lebih dari kebiasaan. Ini sama halnya ketika pertama kali mengunjungi dan dikunjungi oleh kekasih yang biasanya memakai parfum banyak sekali sampai tercium hingga radius 5 meter.

Peringatan Asyura di Karbala, Irak (google image)
Peringatan Asyura di Karbala, Irak (google image)

Kepada Siapa?

Dalam kamus, kata setia adalah berpegang teguh (pada janji, pendirian, dsb). Ada beberapa persamaan kata lain seperti patuh, taat, dan teguh hati. Namun untuk setia, kata tersebut memiliki makna yang mendalam. Bak seorang wanita yang diajak jalan-jalan hanya menggunakan motor tua, mestinya ia tak akan protes walau kehujanan atau kepanasan di perjalanan, karena dia cinta kepada kekasihnya, bukan kendaraannya. Atau, seperti seorang suami yang tak berpaling hanya karena istrinya berubah bentuk tubuhnya selepas melahirkan, karena dia cinta kepada pribadi istrinya, bukan tubuhnya. Itulah kenapa dalam penerapan kesetiaan tidak ada hubungan transaksional seperti berniaga. Dalam setia diperlukan pengorbanan dan lebih banyak memberi, ini yang berat menurut sebagian orang termasuk saya. Tapi bukankah ujian itu selalu berat? Berat atau tidaknya itu tergantung kepada apa dan siapa kita menyatakan kesetiaan. Omong-omong, berboncengan atas dasar cinta itu semestinya indah, tidak seperti wanita yang nemplok di tubuh pria yang memboncengnya begitu erat dan si pria sembari mengelus-elus paha si wanita yang mengenakan hotpants….

Boncengan (kandangbubrah.wordpress.com)
Boncengan (kandangbubrah.wordpress.com)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s