“Duh ngedenger lagu ini jadi inget waktu jalan ama si dia…” Bagi saya, kalimat tersebut tidaklah asing. Dalam beberapa kegiatan berkumpul, biasanya kalimat tersebut muncul begitu sebuah lagu diputar. Tentu kejadian tersebut pernah juga Anda alami. Begitu banyaknya peristiwa yang dilalui dengan berteman alunan lagu-lagu yang menggugah ingatan sehingga begitu lagu tersebut kembali diputar, maka memori di otak akan mengulang gambaran peristiwa-peristiwa yang berkesan.

Musik, sebagai kesatuan dari lagu dan vokal serta instrumen pendukung lain, menjadi sangat berarti dalam perjalanan hidup manusia. Tak heran bila ada orang yang bilang jika hidup tanpa musik akan terasa hampa, seperti kehilangan sebuah jiwa. Bahagia, sedih, tertawa, maupun menangis bakal terasa nikmat ditemani lagu pilihan yang sesuai selera.

Dari sekian banyak jenis musik yang telah manusia ciptakan, tentu tak semua dari jenis-jenis musik tersebut kita sukai. Saya tak suka jenis musik klasik dan dangdut, bukan berarti saya membencinya. Hanya saja selera saya mengarah kepada jenis musik yang lain yang lebih pas. Saya yakin hal itu juga terjadi pada Anda dan menurut saya itulah keberagaman alami, digiring oleh hati dan akal tanpa paksaan.

Musik tak akan terpisah dengan pembuatnya. Semua aspek kehidupan bisa dijadikan bahan membuat musik. Cinta, persahabatan, musibah, perjuangan, isu sosial, adalah sebagian dari tema yang diangkat menjadi alunan musik. Kita tahu penyanyi pria solo seperti Iwan Fals atau Ebiet G. Ade yang selalu membuat lagu bertema yang mengangkat isu sosial. Lain lagi dengan Dewi Yul, ah saya ralat deh karena terlalu lawas, penyanyi seperti Raisa yang selalu melantunkan lagu cinta yang ringan. Begitu dekatnya musik dengan kehidupan sudah barang tentu menimbulkan potensi transaksional mengingat banyaknya pendengar sebagai pangsa pasar. Inilah yang kemudian kita kenal dengan industri musik (atau musik sebagai industri yah? Hehehe).

Tidak sedikit para seniman musik yang memilih jalur idealis tanpa peduli adanya perputaran uang dalam karyanya. Biasanya klasifikasi musiknya disebut musik indie. Tapi dikotomi ini tak akan saya bahas lebih lanjut karena saya hanyalah seorang penikmat musik, baik musik industrialis maupun idealis.

Vaporwave

Bagi Anda yang lahir di tahun 80an tentu tak asing mendengar banyak musik yang menggunakan instrumen digital. Kita tahu artis atau band seperti Aha, New Order, Pet Shop Boys atau yang lokalnya ada om Fariz RM, Denny Malik, hingga Indy yang tenar dengan lagu “Selamat Pagi Siang, Sore dan Malam” dengan root pada Electronic Dance Music (EDM). Era EDM ini terus berlanjut ke tahun 90an hingga sekarang dengan cabang-cabang alirannya yang membesar.

Corak Electronic Dance Music (EDM)
Corak Electronic Dance Music (EDM)

Pada tahun 2010, seiring dengan makin terkoneksinya setiap manusia dengan mudah melalui internet, muncul sebuah aliran EDM dengan corak yang sedikit kembali ke tahun 80an. Dengan daya tarik nostalgia terhadap estetika budaya retro, artefak-artefak patung serta teknologi, Vaporwave muncul melengkapi aliran sebelumnya yakni New Wave.

Beberapa artis dengan aliran Vaporwave sangat sulit terdeteksi wujud aslinya. Kebanyakan mereka mengunggah karyanya di media daring musik seperti Soundcloud, Bandcamp, Last.FM, serta 4chan. Genre musik yang beredar melalui internet ini kembali mempopulerkan corak artefak patung, desain website di tahun 90an, rendering musik digital yang dianggap ‘culun’ atau ketinggalan zaman, warna-warna yang tegas dan beragam, potongan dari film yang direkam pada VHS, dan lain sebagainya.

Beberapa diantaranya juga muncul di Youtube namun dengan menggunakan cuplikan film yang kebanyakan adalah animasi Jepang. Dengan kata lain, Vaporwave kemudian memiliki sub-genre yakni Future Funk. Perbedaannya, bagi Anda yang suka musik elektronik retro yang lembut dan terkesan ‘gelap’ silakan menikmati karya-karya seniman Vaporwave. Future Funk adalah sebaliknya, dentuman musik elektronik retro yang lebih kencang dan umumnya disisipi unsur animasi urban Jepang seperti Intitial D, Detective Conan, dan lain-lain. Lihat ulasan tentang Vaporwave di sini.

Kanji Jepang pada Sampul Album Band Future Funk.
Kanji Jepang pada Sampul Album Band Future Funk.

Menurut beberapa pengamat musik, lahirnya genre ini tak lepas dari peran internet. Hanya saja, komunitas Vaporwave menjadikan internet sebagai media kritik terhadap kapitalisme dengan percepatan teknologi informasi yang membuat manusia sebagai objek yang terlena. Budaya cepat saat ini telah menenggelamkan memori kultur musik dalam komoditas kapitalis. Jangankan untuk membaca buku (sejarah), untuk mendengarkan musik saja sudah tak punya waktu karena sangat sibuk.

Untuk itu, nama-nama seniman Vaporwave seperti Macintosh Plus (sepertinya mereka mengkritik Macintosh hehe), Telepath, VHS Logo, Bloodwave, James Ferarro, Daniel Lopatin (yang ini manusia nyata) serta beberapa yang hadir di genre Future Funk seperti Architecture in Tokyo, Ehugs, Chiyoko, Groovy Godzilla, Night Tempo, muncul dengan tokoh anonim. Mereka menyatakan bahwa musik adalah kenikmatan yang harus dibagi, karena yang penting adalah musiknya, perihal artisnya itu belakangan.

Silakan nikmati lagu-lagu para artis bergenre Future Funk di sini.

Corak sampel musik 70an, 80an, 90an serta sedikit smooth jazz ditambah dengan visualisasi era retro merupakan sebuah pesan bahwa kita harus sedikit menikmati lari yang sangat kencang di era sekarang. Efek surealis serta penggunaan warna-warni serta penyematan huruf Jepang (pada sub-genre Future Funk) adalah simbol kritik terhadap barat sebagai pembuat janji palsu kapitalisme (huruf Jepang sering digunakan sebagai simbol non-barat).

Budaya Konsumerisme
Budaya Konsumerisme

Bagi saya ini menarik, di era digital sekarang, sangat mudah untuk meraih kapital. Lihat saja banyak bermunculan pengusaha muda yang ‘hanya’ berjualan online beberapa bulan saja sudah kaya raya. Gejala kesuksesan dinilai melalui apa yang dipunyai (materi) adalah bukti bahwa kapitalisme memang berhasil, budaya ‘siapa’ lebih dominan ketimbang ‘apa’.

Itulah sedikit interpretasi saya terhadap genre musik ini, semoga bermanfaat untuk menambah khazanah pengetahuan kita. Berkontemplasi bisa banyak caranya, salah satunya adalah mendengarkan serta meresapi pesan dari musik. Jadi, kapan terakhir Anda mendengarkan lagu sampai beres?

Omong-omong, lagu genre Future Funk yang saya suka salah satunya ini.

Advertisements

2 thoughts on “Vaporwave: Musik Melawan Arus dan Anonim

  1. Penjelasan tentang vaporwave nya detail banget bro, gue jadi ngerti asal muasal nih genre 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s