Di tubuh seorang manusia yang memiliki berat badan 70 kg, setidaknya terdapat 42 liter air di dalamnya. Jumlah air tersebut setara dengan angka 60-70 %. Jika manusia merupakan mahluk paling sempurna (Al Isra : 70), maka begitu pula dengan air sebagai komponen terbesar yang membentuk seluruh jaringan pada tubuh manusia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, air adalah cairan jernih tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau yang terdapat dan diperlukan dalam kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan yang secara kimiawi mengandung hidrogen dan oksigen. Dari definisi tersebut menarik bila kita fokuskan pada kalimat; ‘diperlukan dalam kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan…’ yang mana berarti seluruh isi dari ekosistem yang ada di bumi memerlukan air sebagai hajat yang penting bagi keberlangsungannya. Dalam peradaban manusia, kegunaan air meliputi penggunaan di bidang pertanian, industri, rumah tangga, rekreasi, dan aktivitas lingkungan. Sangat jelas terlihat bahwa seluruh manusia membutuhkan air (bersih).

Peradaban manusia berjaya mengikuti sumber air. Mesopotamia yang disebut sebagai awal peradaban berada di antara sungai Tigris dan Euphrates. Peradaban Mesir Kuno bergantung pada sungai Nil.

Pusat-pusat manusia yang besar seperti Rotterdam, London, Montreal, Paris, New York City, Shanghai, Tokyo, Chicago, dan HongKong mendapatkan kejayaannya sebagian dikarenakan adanya kemudahan akses melalui perairan.

Sayangnya, hanya 3% air di bumi yang dapat dikonsumsi, itupun lebih dari dua pertiganya berada dalam bentuk es. Sedangkan 97% dari air di bumi adalah air asin. Dapat dibayangkan dalam jumlah 1% air tawar tersebut dikonsumsi oleh seluruh mahluk hidup di bumi. Dalam sebuah penelitian dari UNDP (United Nations Development Programme), lebih dari seperenam manusia di dunia hidup di daerah yang mengalami stres air, yang berarti mereka tidak memiliki akses yang mencukupi ke air minum.[1]

Kelangkaan air tidak hanya disebabkan oleh gejala alam, melainkan sebagian besar ulah manusia itu sendiri. Ledakan populasi manusia, arus urbanisasi yang makin tak terbendung, serta perusakan lingkungan adalah beberapa dari sekian banyak penyebabnya. Kelangkaan air bisa berupa fisik, di mana memang sumber-sumber air mengering. Selain itu juga berupa ekonomi di mana terjadi perebutan air antara kebutuhan perumahan, pertanian dan lingkungan akibat dari kemiskinan.

Pentingnya air sebagai anasir kehidupan selain dari api, tanah, dan hawa, telah disadari oleh manusia bihari melalui kebudayaan. Tak terkecuali di wilayah Pasundan, air disimbolkan menjadi penamaan daerah. Hampir semua kota dan desa memakai nama yang berawalan ci – , yang berarti air, atau pun bisa diartikan sungai. Pada masyarakat Melayu atau Minangkabau, terdapat banyak tempat yang menggunakan nama air, seperti Air Bangis dan Air Hadidi. Setali tiga uang dengan yang disebut sebelumnya, masyarakat Jawa juga menamakan beberapa daerah dengan nama air, sebut saja Banyumas dan Banyutibo.[2]

Pada zaman Hindu-Indonesia, air ini disebut tirta amerta. Tirta tidak lain adalah air. Amerta adalah bentuk negasi dari merta, mortal, atau mort yang tak lain adalah kematian. Jadi, tirta amerta adalah air antikematian atau lazim dikenal sebagai air kehidupan. Air merupakan berkah dan setiap berkah itu transenden, bukan dari pengalaman dan pengetahuan manusia. Karena transenden, air bersifat sakral, suci, murni, inti (aci/sari), halus, dan tak tampak dalam dirinya sendiri.

Bagi masyarakat Sunda, mata air dalam tempat-tempat tertentu, seperti delta-delta sungai adalah disebut mata air kabuyutan yang keramat dan dipercayai mendatangkan berkat. Dalam ritual-ritual kampung, tak jarang nasi atau bubur yang akan dijadikan kenduri bersama harus dimasak menggunakan air kabuyutan ini. Hal ini berarti air merupakan berkah hidup yang akan membawa kelestarian hidup di dunia. Tak jarang kemudian muncul mitologi mengenai air di dalam budaya ini. Mitos sering disandingkan dengan sistem budaya yang bagi penciptanya dijadikan panduan hidup. Maka sering kolot baheula melakukan pelarang dengan cerita-cerita mitos yang mistis; “Pami bade ka dinya sowan heula kakuncenna” atau “Teu kenging ka dinya, tempat karuhun eta mah…” Dan lain sebagainya.

 Dunia folklore Sunda memang selalu mengaitkan antara yang tampak inderawi dengan transendental menjadi satu kesatuan. Contohnya “tanding iwung jeung bitungna” –seperti rebung dengan bambunya. Selain itu, pada masa lampau di tatar Sunda, makna filsafat yang terkandung dalam mitos yang telah melegenda menjadi acuan etika dan estetika bagi masyarakatnya. Maka tak heran ada banyak kawasan-kawasan yang dikeramatkan yang terlihat dari adanya artefak batu nisan yang sering dikenal dengan kuncen dari kawasan-kawasan tersebut sebagai konotasi dari unsur mistik. Masyarakat awam pun secara dogmatis mematuhinya. Mungkin karena takut akan terjadi kemalangan bila melanggar.

Perlahan, unsur sakral di banyak budaya lisan tradisi Sunda luntur. Karakteristik kebudayaan Sunda yang penuh kelenturan itu di satu sisi memang adaptif, tapi di sisi lain dianggap terlalu terbuka menyebabkan terjadinya perubahan cepat. Mengambil contoh kasus dari booming-nya berita mata air (cinyusu) Cilembang di daerah Hariang, Buahdua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, di mana mata air yang sebelumnya tidak terjamah, lalu mendadak menjadi lokasi rekreasi saking banyaknya pengungjung yang datang silih berganti. Mitos sakralitas yang dahulu tersemat di Sirah Cilembang itu perlahan terkikis dengan pergeseran nilai budaya yang terbentuk karena arus kemajuan teknologi. Tak segan beberapa pengunjung ‘nakal’ mendobrak larangan-larangan yang telah ratusan tahun ditaati masyarakat sekitar. Kebanyakan dari pengunjung berasal dari luar daerah tersebut. Mereka datang karena penasaran ingin melihat keanehan lalu kemudian turut mempopulerkannya di dunia maya. Selamat datang di era narsistik modern.

160111174700-situ-cilembang-wisata-unggulan-baru-sumedang - galamedia
Mata Air Cilembang. (Sumber: Galamedianews.com).

Kembali kepada Tirta Amerta, konsep ini terlahir karena masyarakat purba Sunda yang gemar berladang di lereng-lereng gunung. Air pada masyarakat Sunda lama yang rata-rata hidup dari huma bersumber pada air hujan dan hutan. Curah hujan yang tinggi di Pasundan adalah berkah dari langit, yang menyuburkan padi huma, sawah, serta hutan. Ini yang menyebabkan budaya Sunda amat menjaga sumber-sumber mata air. Mereka (para leluhur) sadar bahwa air merupakan sarana utama bagi melangsungkan peradaban. Nilai-nilai tersebut rasanya sudah tak diajarkan lagi di kehidupan masyarakat Sunda kiwari.

Mungkin, perubahan ladang dari alam ke ruangan ber-AC di masyarakat modern Sunda menyebabkan pergeseran nilai sakralitas mitologi air (serta sumber-sumbernya) yang fundamental sebagai falsafah berkehidupan.

Korporasi Air

Apakah Anda sering mengkonsumsi air kemasan? Saat ini, tak sulit menemukan air mineral dalam kemasan. Ini sudah semacam kebutuhan bagi banyak manusia, meskipun di beberapa desa masih ditemukan warganya mengelola air untuk kebutuhan sehari-hari, ya seperti di wilayah Hariang tadi.

Merk-merk air mineral kemasan makin bermunculan. Kita tahu ada beberapa yang sudah established dalam waktu yang cukup lama. Sumber-sumber air dikuasai lalu kemudian menjadi ladang bisnis dengan beragam keuntungan. Di bidang lain, banyak waduk dibangun untuk kemaslahatan rakyat. Namun seiring bertambahnya manusia dan berkurangnya hutan yang meresap air, kekhawatiran hilangnya air menjadi besar. Pada tahun 1989, maka lahirlah program kali bersih (prokasih), puncaknya, digulirkan Gerakan Hemat Air pada 16 Oktober 1994. sebuah program berbasis budaya yang menghidupkan sistem tradisional yang menangani air seperti subak, beserta lembaga Sedahan, Pembekel, dan Pekasih.

Akan tetapi, bumi semakin berat menanggung beban dan manusia tak akan pernah berhenti hingga seluruh umatnya bertanya; “kemanakah air bersih?”.

 

Sumber:

[1] United Nations Development Programme (2006). Human Development Report 2006: Beyond Scarcity-Power, Proverty and the Global Water Crisis. Basingstoke, United Kingdom: Palgrave, Macmillan.

[2] Sumardjo, Jakob. “Budaya Air di Sunda”.Kompas. 14 November 2009.

 

Featured Image: http://derechoslatinamerica.com/2015/04/20/spronk-susan-j-the-politics-of-water-privatization-in-the-third-world-review-of-radical-political-economics-39-winter-2007-126-131/

 

1 minggu 1 cerita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s