Tidak lama setelah terima gaji, biasanya beberapa orang di kantor-kantor akan berkelompok membincangkan sesuatu. Ada yang berencana untuk pergi berlibur, ada yang berencana ganti peralatan elektronik, atau hanya sekadar menentukan café untuk melanjutkan perbincangan.

Eh ke Bangkok yuk, seru kayaknya. Tapi hari ini kita karaoke-an dulu, biar fresh.” Begitulah salah satu obrolan yang sering terlontar. Hal ini juga diamini oleh beberapa rekan yang bekerja di kantor lain. Sepertinya ini semacam ritual khusus ketika menyambut yang namanya ‘gajian’.

Pernah saya bertanya; “kenapa sih jalan-jalan terus, gak ditabung aja?” dan kemudian dijawab “Gak apa-apa, yang penting senang.” Saya tak berani meneruskan, karena tak punya hak untuk melarang atau membolehkan. Namun yang menarik adalah muncul kata ‘senang’. Saya kemudian bertanya-tanya di dalam diri, bila banyak manusia itu mengejar kesenangan, lantas apakah mereka juga bahagia? Lalu apa bedanya senang dengan bahagia?

Mulailah saya googling mengenai kedua senang dan bahagia. Beberapa definisi muncul ditambah dengan artikel-artikel yang terkait. Begitu pula dengan versi bahasa Inggris, banyak muncul artikel yang menjelaskan mengenai ‘joy’ dan ‘happiness’. Rata-rata para penulisnya membawa kita kepada sebuah kesimpulan yang sama, yakni senang dan bahagia bedanya ada pada tingkatan. Analogi sederhananya, senang itu bila kita makan makanan enak, namun bahagia adalah ketika kita makan makanan lezat. Makanan enak belum tentu lezat karena bisa jadi rasanya ‘pasaran’. Namun, lezat sudah pasti enak dan punya cita rasa tinggi (dan eksklusif).

Ada lagi yang menganalogikan senang seperti ini; Ketika seseorang yang sudah lama menganggur dan terdesak harus menafkahi keluarganya, tiba-tiba kedatangan seorang teman yang sukses dan kemudian memberikan sejumlah uang secara cuma-cuma untuk modal memulai usaha dan dia sangat senang akan hal itu. Sedangkan bahagia adalah sebaliknya, ketika seseorang telah memberikan sejumlah uang kepada seseorang yang sedang kesusahan. Dari dua analogi tersebut dapat disimpulkan perbedaan dari senang dan bahagia.

Hampir semua motivator, teoritor, atau apalah itu yang berkaitan dengan ilmu tersebut mengatakan bahwa memberi akan membawa kita pada kebahagiaan. Memberi di sini tidak hanya soal uang, bahkan Nabi pun berujar bahwa senyum adalah sedekah. Kesenangan itu melibatkan diri sendiri, it’s all about me. Namun kebahagiaan melibatkan orang lain dalam membagi kesenangan, it’s not all about you. Untuk itu muncul istilah ‘hedonisme’ atau paham yang mencintai kesenangan, bahwa tujuan hidup adalah bersenang-senang.

Mana yang kamu pilih? Senang atau bahagia? Bila ingin bahagia kunci hanya satu yakni berhenti berpikir ke dalam. Berpikir ke dalam akan melibatkan ego, emosi, hasrat, dan nafsu karena semua tentang aku, aku, dan aku. Contoh orang yang berpikir ke dalam adalah bila kemalangan menimpanya, mereka akan menyalahkan orang lain bukan berintrospeksi. Bila kesenangan hinggap, mereka akan mendahulukan dirinya bahkan dihabiskan sendiri.

Tulisan ini sebetulnya hasil dari perenungan. Setelah saya paham akan perbedaan kesenangan dan kebahagiaan, saya ingin sekali merubah cara pandang untuk lebih banyak berpikir keluar (memberi). Berhubung saya tak punya banyak uang untuk dibagikan, maka kiranya pantas bila tulisan ini saya sedekahkan untuk mengajak kepada pertanyaan; “Maukah kamu berzakat dan bersedekah setelah ‘gajian’?

 

1 minggu 1 cerita
Follow Twitter @1mg1cerita
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s