Ada yang malas berolahraga? Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir berolahraga? Apakah dengan olahraga bisa memperpanjang usia? Mana yang lebih nikmat, makan selagi sehat atau makan selagi sakit?

Olahraga memang bukan jaminan untuk memperpanjang usia. Namun, dengan berolahraga, indeks kebahagiaan akan meningkat. Tak percaya? Beberapa Universitas kenamaan banyak mengeluarkan riset-riset yang hasilnya menyatakan bahwa olahraga memiliki efek positif, khususnya bagi kebahagiaan. Secara teknis, silakan Anda buka jurnal-jurnal yang berserakan di dunia maya, saya yakin sangat mudah, bila sulit, silakan kembali ke zaman surat menyurat.

Menurut jurnal-jurnal riset tersebut, seseorang yang berolahraga akan merasa senang karena terjadi pelepasan hormon edorfin atau yang dikenal dengan hormon kebahagiaan. Hormon tersebut sangat baik bagi otak, karena bagaimana pun otak merupakan organ vital manusia. Olahraga juga mengurangi depresi karena berkurangnya hormon kortisol yang sering menjadi penyebab rasa cemas. Untuk yang sedang banyak cicilan hutang, saya rasa pantas untuk melakukan aktivitas olahraga. Kalo perlu pilih latihan olahraga tinju hehe.

Di zaman yang serba canggih, semua bisa dilakukan dengan cepat. Namun tidak dengan olahraga, karena kegiatan ini melibatkan tubuh yang bergerak aktif, kecuali olahraga catur sama bridge. Syarat utamanya yah tubuh harus bergerak agar jantung bekerja mengalirkan darah dengan cepat, inilah  cara alami untuk menghindari penyumbatan pembuluh darah. Coba cek lagi, kapan terakhir Anda berolahraga? Makin canggih bukannya makin rajin, malah waktu kita habis di depan gadget dan bekerja (baca: sok sibuk).

Oksigen Lebih Banyak

Suatu hari, istri saya laporan bahwa gayung air di rumah pecah. Wah, bakal ada pengeluaran tak terduga lagi nih. Maklum, semenjak sering utak-atik keuangan di kantor, insting manajemen keuangan seketika meningkat drastis, semua pemasukan dan pengeluaran harus direncanakan. Akhirnya, budget membeli gayung dimasukkan ke dalam pembelian aset (situ oke?).

Tiga hari terlewati, gayung pun belum juga terbeli. Niat kami memang akan membelinya di supermarket langganan (Borma), karena terkenal dengan harga yang murah. Namun, Gusti Allah berkehendak lain, pada hari Minggu selepas dari rumah buyutnya anak-anak menuju rumah kami melihat tukang perlengkapan rumahtangga yang menanggung dagangannya. Perlu diketahui, jalan yang kami lalui adalah jalan pedesaan yang konturnya naik turun lalu berkelok-kelok. Tanpa sadar saya injak rem mobil dan langsung berujar kepada istri; “Kayaknya kita beli gayung di si mamang (abang/mas) itu aja (sambil nunjuk ke belakang).”

Mang aya gayung mandi anu pondok (Bang ada gayung mandi yang pendek)?” Tanyaku pada tukang dagang itu. Dia menjawab ada dengan berbagai varian warna. “Kantun milih weh (tinggal pilih saja)” Tambahnya. Satu gayung terbeli, kami angkut dengan mahar Rp 12.500. Di dalam mobil, istri mewanti-wanti agar tidak menawar. Tapi, emang dasar doyan nawar, saya tawar barang tersebut dengan niat hanya tes saja. Si mamang bertahan, saya pun mengiyakan, lalu kami sepakat dengan harga di atas.

Si mamang terlihat masih muda dan tampak segar meski tanggungannya cukup besar. Dia juga sempat bertanya saya dari mana dan hendak ke mana. Saya pun menjawab dengan tambahan pertanyaan yang sama. Dengan jawaban yang diucapkannya, saya mencoba menakar dengan nalar sederhana akan jarak tempuh serta jangkauan perjalanan dia dalam berdagang. Cukup lumayan, mungkin 5-10 km. Tapi mengingat kontur geografinya yang naik turun, tinggal dikali saja 1-2 kali lipatnya. Belum lagi kampung terakhir yang dia sambangi letaknya di ketinggian 800 mpdl dengan elevasi yang sangat rapat.

Sungguh pekerjaan yang menyehatkan bila diukur dari sisi aktivitasnya. Bagaimana tidak, dia berjalan kaki tanpa kendaraan (zero footprint bro!) di daerah pegunungan yang masih asri. Mungkin oksigen yang dia hirup masih lebih banyak dan lebih bagus ketimbang kita yang kerja kantoran di dalam ruangan ber-AC. Di luar semua itu, kami cukup puas karena akhirnya mendapatkan gayung untuk mandi, selesai sudah puasa mandi selama ini.

Sempat saya berdebat dengan teman yang ingin berolahraga namun tak memiliki waktu. Menurut saya itu hanya dalih, excuse, atau apalah sebagai pembenaran. Stop memupuk alasan, karena tubuh tak butuh itu. Usia makin menipis, fisik makin tak berbentuk, tapi tak ada kata terlambat. Mari mulai dari yang ringan karena permulaan biasanya sangat berat (yang ringan sih khayalan).

 

1 minggu 1 cerita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s