Untuk apa kita bermasyarakat, jika pada waktunya dilarang untuk bernyanyi sekeras mungkin? Untuk apa kita bersosialisasi, jika pada waktunya kita diejek karena salah memakai kostum? Untuk apa kita berinteraksi, jika pada waktunya berselisih paham?

Pada suatu malam, saya, istri dan anak menyaksikan sebuah film seperti hari-hari sebelumnya yang menjadi kebiasaan bagi kami menunggu waktu tidur. Saat itu, saya tertarik untuk menyaksikan film non-mainstream yang dibintangi oleh Daniel Radcliffe yang dulu tenar melalui film Harry Potter. Jalan filmnya cukup menghibur, banyak terdapat candaan-candaan sederhana yang renyah. Dalam beberapa adegan yang agak ‘dewasa’ (tidak vulgar) kami terpaksa menutup mata anak kami atau mengalihkan dengan pembicaraan lain mengingat usiannya yang baru 4 tahun.

Swiss Army Man, sebuah film petualangan fantasi yang menyuguhkan nilai-nilai terkait beberapa pertanyaan di paragraf pembuka di atas. Film tersebut di luar nalar namun dikemas dengan banyaknya adegan-adegan yang kental dengan unsur proksimitas berbasis peristiwa keseharian seperti makan, minum, buang hajat, hingga percintaan.

Pertanyaan paling awal pada tulisan inilah yang membuat saya merenung. Pertanyaan itu diutarakan oleh Manny (Radcliffe) kepada Hank (Dano) saat Hank ingin sekali pulang bertemu kerabatnya setelah sekian lama terdampar di sebuah pulau. Hank menceritakan banyak aturan, tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus ini, harus itu, ketika dia kembali kepada masyarakat. Itulah yang membuat bingung Manny, si mayat hidup, hingga keluar pertanyaan “Untuk apa kita bermasyarakat, jika pada waktunya dilarang untuk bernyanyi sekeras mungkin?” Pertanyaan polos dan jujur yang keluar dari sosok yang tidak pernah sama sekali bersosialisasi. Tentu saja, karena Manny adalah mayat hidup yang punya bermacam kepintaran kecuali menggerakan tubuhnya tapi tak punya teman.

Untuk apa kita (manusia) dikategorikan sebagai mahluk sosial?  Dalam ilmu sosiologi (maaf bagi yang jurusannya eksakta) kita telah pelajari tentang interaksi sosial dan tentang sosialisasi. Di situ dipelajari bahwa hidup seseorang akan terkucil, sendirian, dan menjadi gila jika tak mampu bersosialisasi serta tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.  Manusia mempunyai naluri hidup bersama dengan orang lain. Naluri hidup bersama itu disebut gregariousness.  Akan tetapi, mengapa kemudian di bumi ini banyak sekali masalah yang sebagian besar diakibatkan oleh interaksi sosial antar-manusia? Perkelahian, ketimpangan sosial, kejahatan, perusakan lingkungan dan lain sebagainya. Bukankah dorongan bersosialisasi yang menjadi kodrat manusia adalah menuju kebaikan dan kesempurnaan? Apakah manusia juga diciptakan dengan dorongan-dorongan atau hasrat negatif?

Kiamat

Seluruh drama manusia yang saling berinteraksi akan segera berakhir begitu datangnya hari Kiamat. Ya, tidak ada satu kepercayaan pun yang menolak akan adanya hari tersebut. Hampir semua percaya akan Kiamat dan kematian.

Sebuah studi terbaru yang dilakukan University of East Anglia, Inggris memperkirakan, Bumi masih mampu menopang kehidupan setidaknya selama 1,75 miliar tahun mendatang. Tapi syaratnya, selama bencana dahsyat akibat nuklir, tubrukan asteroid raksasa, dan malapetaka lain tak terjadi.  Astronom Kerajaan Inggris, Martin Rees menambahkan, bahwa prediksi dia pada 2020 sekitar sejuta orang akan meninggal akibat ‘bio-terror atau bio-error‘. Yup, bila kita buka informasi beberapa tahun ke belakang, saat Amerika Serikat menyerang Irak didasarkan adanya senjata biologis pemusnah massal. Inilah ketakutan-ketakutan yang sering kita saksikan di film-film zombie. Untuk itu, selain dari asteroid, bencana nuklir, dan malapetaka, maka produk bioteknologi juga akan mempercepat (baca: mengancam) usia bumi menuju kehancuran. Lantas, kenapa tidak kita selesaikan saja segera? Hehehe.

Tak perlu jauh kita berpikir ke arah sana, karena saya yakin bagi sebagian besar manusia dewasa (atau terpaksa dewasa) yang menjadi masalah nyata adalah; harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, membayar tagihan listrik serta tanggungan bulanan lainnya, biaya berobat yang mahal, uang masuk sekolah yang jumlahnya sepuluh kali lipat dari penghasilan bulanan, dan , ah sudahlah teruskan sendiri. Dengan ini saya simpulkan bahwa inflasi adalah horor!

Catatan
George Herbert (1972) menguraikan pengembangan diri manusia berdasarkan urutan kedewasaan melalui beberapa tahap yakni play stage, game stage, dan generalized other. Penjelasannya sebagai berikut:

  1. Play stage = Seseorang mulai belajar mengambil peranan orang-orang yang berada di sekitarnya atau bisa di sebut tahap meniru.
  2. Game stage = Seseorang tidak hanya telah mengetahui peranan yang harus dijalankannya, tetapi telah pula mengetahui peranan yang harus dijalankan oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi.
  3. Generalized other = Seseorang diangap telah mampu mengambil pernan yang dijalankan orang lain dalam masyarakat.

Jadi, saya yakin akan ada beragam respon dari pembaca yang telah membaca keseluruhan tulisan di atas. Semoga Anda termasuk kepada kelompok yang paling dewasa dan bukan terpaksa dewasa. Mari menikmati inflasi hingga kiamat tiba.

1 minggu 1 cerita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s