Sore itu, seorang kakek lagi berbincang dengan cucunya. Dalam harmoni suasana kaki gunung serta kehangatan yang mereka dapatkan dari secangkir teh masing-masing, mereka tampak asyik larut dalam percakapan antargenerasi tersebut. Mungkin itulah yang dinamakan ‘suasana minum teh yang sebenarnya’ yang akhir-akhir ini sulit untuk dilakukan.

“Bah, maaf baru sekarang bisa kembali berkunjung, yah maklum pekerjaan akhir-akhir ini lumayan menyita waktu” Ucap Tika, gadis 25 tahun yang berprofesi sebagai Astronom. Semenjak lulus kuliah, Tika langsung bekerja di sebuah lembaga penelitian di kota Lemuria yang berjarak kurang lebih 300 kilometer dari banjar Agartha tempat kakek dan neneknya tinggal. Kakek Tika adalah seorang pensiunan guru sekolah dasar. Karena dahulu dia sering menjadi dalang pertunjukan wayang maka sering dipanggil Abah Dalang.

Dua cangkir teh yang tersaji sore itu dibuat oleh sang nenek. Tika dan keluarganya biasa memanggil dengannya Ambu. Dengan sangat hati-hati dan penuh penghayatan, Ambu akan membuat dan menyajikan teh yang rasanya ‘lain’. Bagi Tika, terlibat dalam suasana tersebut merupakan obat penghilang rindu. Rindu yang selama ini mencari tempat yang bernama rumah (yang sebenarnya).

“Tidak apa-apa Tika, kamu hadir di sini sekarang pun sudah membuat Abah bahagia” Jawab Abah Dalang sembari menyeruput teh hangatnya. “Entahlah Bah, akhir-akhir ini Tika sering mengamati beberapa lokasi di planet bumi dari peralatan yang ada di tempat kerja” Sambung Tika. “Dari beberapa citra yang tergambar, kok malah muncul beberapa pertanyaan di kepala, dan rasanya pantas Tika tanyakan juga kepada Abah” Pungkas Tika.

“Sebelum kamu Tanya, izinkan Abah bercerita sedikit” Jawab Abah dengan santai. “Inna dhofatu minal iman” Lanjut Abah. Abah lalu menghela nafas dan kembali bercerita bahwa zaman dulu di puncak gunung sebelah utara banjar tersebut terdapat sepasang harimau bersarang. Harimau itu berukuran besar dibandingkan dengan yang lainnya. Tak banyak dari warga banjar yang pernah melihat mereka secara langsung, namun jejak-jejaknya secara kasatmata terlihat di mana-mana. “Kakek dan bapaknya Abah dulu sering melarang untuk main ke tempat itu” Ucap Abah. Tika yang mendengar ucapan Abah seketika meletakkan telepon genggamnya di meja. Dari awal memang tak hanya berbincang sambil minum teh, Tika merupakan ‘jelmaan’ dari generasi masa kini yang tak bisa lepas dari menggenggam telepon seluler, bahkan ketika sedang berbincang dengan manusia ‘nyata’.

Trus waktu dilarang, Abah makin penasaran dong?” Tanya Tika. Abah Dalang mengangguk, maklum saat itu dia adalah seorang pemuda yang rasa ingin tahunya besar. Belum lagi Abah Dalang sedari muda sudah bergabung bersama paguyuban kesenian wayang yang sering bolak balik melewati kaki gunung tersebut. “Satu hari setelah ayahmu lahir, Abah pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Abah tak sendirian, saat itu ditemani oleh beberapa tetangga yang juga hendak mencari barang yang sama. Tak disangka, di tengah jalan kami berjumpa dengan harimau legenda itu, namun hanya si jantan. Kami para pencari kayu bakar saling menatap lalu bertanya dalam hati; kemanakah si harimau betina?” Lanjut Abah.

“Selain mengajar dan mendalang, Abah juga disibukkan dengan mengurus anak-anak, ya ayahmu, dua pamanmu serta seorang bibimu itu. Praktis Abah sudah tidak pernah lagi pergi ke puncak gunung di utara, paling hanya di kaki-kaki gunungnya. Hingga pada saat di mana harimau jantan digotong keluar hutan lalu di jalan utama banjar terdapat tiga kendaraan besar” Seru Abah. “Saat itu Abah tersadar, bahwa dua harimau penjaga puncak gunung utara ternyata telah diburu, dan mungkin diawali dengan harimau betinanya terlebih dahulu waktu itu” Lanjutnya. “Dari mana orang-orang ini? Mengapa mereka ‘diizinkan’ masuk ke hutan larangan dan merusaknya?” Tanya Abah.
Mengapa Sepi?
“Saat membandingkan dua citra satelit sungai-sungai di Negara kita. Tika sengaja fokus pada sungai besar yang melewati banjar ini. Tika ingat saat Abah mengajak kami (Tika dan kakaknya) pergi ke sungai itu. Airnya segar dan bening sehingga kami ingin berlama-lama di situ. Namun, kini mengapa suasana itu terhempas hilang? Air di sungai menghitam dan kata penduduk lain baunya pun busuk” Tika saat itu sambil menunjukan dua print gambar yang beda akan kondisi sungai pada Abahnya.

“Setelah Ayahmu dan adik-adiknya pergi ke kota untuk menuntu ilmu, banjar ini mulai terkena sindrom urbanisasi, sama halnya dengan banjar-banjar lain” Jawab Abah. “Mereka kemudian menetap di kota besar. Bekerja dan berkeluarga di sana. Tentu kamu pun dilahirkan di kota bukan?” Lanjut Abah. Banjar Agartha pada era itu menjadi defisit anak muda. Profesi yang dulunya kebanyakan petani pun perlahan berganti menjadi profesi pendukung industrialisasi. “Banyak juga pabrik-pabrik yang didirikan di pinggiran banjar. Abah menduga mungkin tenaga kerja di sini berbiaya murah, tidak seperti di kota” Ucap Abah.

Apa yang akan terjadi bila berdiri tiga pabrik di banjar (desa) yang besarnya hanya 875 ha?

“Para pemuda ‘gagal’ di kota berduyun-duyun pulang ke banjar. Mereka berniat melamar pekerjaan di pabrik-pabrik itu” Abah menjelaskan mengapa banjar ini berubah ramai. “Pabrik-pabrik tadilah yang membuat sungai besar itu berubah gelap. Si Ambu saja sampai protes karena sekarang sudah tak bisa lagi mencuci serta mandi di sungai. Lagian kalau si Ambu mandi di sungai, apa gak malu dia dilihat pegawai pabrik?” Kata Abah.

“Akhir-akhir ini Abah sering merenung. Abah merenungkan kegagalan generasi Abah dalam menceritakan kembali wangsit serta nasihat-nasihat bijak dari leluhur kita akan pentingnya memaknai hidup yang salah satunya adalah menjaga lingkungan. Abah lalai mewariskannya pada ayahmu dan adik-adiknya. Abah sedih mereka tidak menanamkan nilai-nilai itu padamu. Itulah yang membuat generasi kamu jauh dari ibu pertiwi. Abah juga takut kamu dan generasimu akan bertanya pada kami; ‘Di manakah Abah ketika tahu alam telah rusak?’” Ucap Abah sambil sesekali mengusap matanya yang sedikit berlinang. “Oya, mengapa kamu ingin belajar bahasa daerah banjar sini, sedangkan kebanyakan dari warga banjar sudah tidak menggunakannya?” Pungkas Abah.

*Gambar sampul tulisan: Lukisan karya Julien Alden Weir yang berjudul “The Factory Village” (1897). 

1 minggu 1 cerita

Advertisements

9 thoughts on “Percakapan Dua Generasi

  1. Kagum dg cerita Abah, zaman memang terus berkembang ya kak diki? Tetapi tidak begitu dg kepedulian thd lingkungan yg justru mengalami kemunduran.

    Tentang bhsa daerah yg mulai ditinggalkan, rasanya memang skrg kecenderungannya bgitu ya?

  2. Tulisan nya bagus..
    Tadi Waktu cerita ttg sepasang harimau, sy pikirnya nti mengarah ke legenda atau apalah yg ternyata harimau nya adalah harimau nya adalah harimau jadi – jadi an. Eh ternyata saya salah, hihihi
    Pesan moral cerita nya bagus sekali.. Kt perlu saling mengingatkan untuk menjaga alam demi masa depan anak cucu

      1. Wah, baru tahu itu. Banjr persamaan dari kata Desa.
        Hmmm… Banjar Pataruman, Banjar Negara, Banjar dan lain-lain. Kotif Banjar=Kotif Desa 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s