Namanya Dadang. Tingginya mungkin 165 cm, tidak terlalu tinggi untuk ukuran pria bule. Tapi sayangnya, dia bukan bule. Dia asli Garut. Bersama dua temannya, dia membuka jasa pangkas rambut di daerah Kebayoran Baru, Jakarta.

Tarif dewasa adalah 15 ribu rupiah. Teringat tiga tahun lalu, tarif dewasa hanya 10 ribu. Inflasi telah berlari begitu cepat. Tak hanya pelanggan, Dadang pun terpaksa meningkatkan harga jasanya demi mengejar ketertinggalan ia dan dapurnya. Namun, apakah setiap orang yang bernama Dadang adalah tukang pangkas rambut?

Namanya Ijum. Saya tak tahu nama aslinya, karena ikut-ikutan dengan tetangga memanggil tukang jamu itu. “Neng jamuuu…” Begitulah mba Ijum berteriak di depan rumah setiap pagi. Dua bulan ini dia ngider lebih pagi untuk mengejar inflasi, karena suaminya baru saja berpulang kepada yang Kuasa. Anaknya tiga, yang paling besar baru akan masuk kuliah dan biayanya makin naik karena inflasi. Namun, apakah setiap orang yang bernama Ijum adalah tukang jamu keliling?

Namanya Fredi. Asli Jakarta tapi besar di London. Baru habis kuliah dia pindah lagi ke Jakarta dan menikahi gadis betawi. Tiap ke rumahnya, selalu ramai, apalagi bila Fredi dan istrinya berbincang. Gaya bahasa Betawi yang cablak dengan volume besar sangat meriah, berasa nonton Lenong (baca: langka).

Fredi berstatus sebagai manajer di perusahaan elektronik. Saat ini dia punya banyak anak buah yang bila bertemu saya, dia selalu bercerita mengenai kelakuan anak buahnya yang unik-unik. Katanya, jadi manajer itu gak cuma menguasai kompetensi praktis, tapi juga kemampuan mengelola manusia. Namun, apakah setiap orang yang bernama Fredi adalah seorang karyawan berpangkat tinggi?

Namanya Dina. Dia adalah teman kuliah saya dulu. Tiap ketemuan, dandanan dan aroma parfumnya sangat khas. Maklum, dia adalah supervisor marketing di hotel berbintang. Yang dia temui tak hanya kita-kita sebagai temannya, tapi juga banyak orang penting yang akan bekerjasama dengan hotel tempatnya bekerja.

Penampilan adalah modal utama, selanjutnya bisa menyesuaikan. Suka minder sih kalau kita ketemu. Karena kayaknya saya ndak cocok kerja di hotel. Secara gitu kalo ngantor saya sukanya kaosan saja. Namun, apakah setiap orang yang bernama Dina adalah pecinta dandan?

Namanya Saswi, dia adalah mantan buruh pabrik yang kena PHK lalu beralih menjadi pengemudi ojek online. Saya mengenalnya saat diantarkan ke tempat rapat di salah satu Kementrian. “Bang, yang ngebut ya, saya telat banget nih” Ucap saya mengawali perkenalan kala itu.

Cara kemudinya sangat lihai. Pantas lah bila saya beri tujuh bintang, eh lima, di aplikasinya. Selain itu, nilai tambahnya ialah; bang Saswi harum! Namun, apakah setiap orang yang bernama Saswi adalah pengguna parfum Body Shop?

 Namanya Vera. Orang satu kota ini pasti tahu siapa dia. Tidak dari parasnya, melainkan melalui suaranya. Setiap pagi, Vera setia menemani para manusia penerjang kemacetan menuju tempat kerja. Di frekuensi FM lah kita bisa berbincang dengannya secara rebutan. “Mba rikues lagu Dewa 19 yang Risalah Hati yah

Sering saya membayangkan, kira-kira mba Vera tiap pagi sempat sarapan gak ya? Saya baru bangun, suaranya sudah terdengar. Saya mandi suaranya masih ada. Saya lagi di perempatan pun dia masih bersuara lantang penuh semangat. Namun, apakah setiap orang yang bernama Vera doyan pegang mic?

Ini sebetulnya bukan tulisan stereotip. Tapi terserah kalian juga kalau punya jawaban sendiri-sendiri. Kalau dipikir kembali, tidak ada seorang pun yang tak punya nama. Dan dari sekian banyak manusia yang punya nama, tentu punya profesi tertentu yang dipilih dengan sadar atau terpaksa untuk mengejar inflasi.

Inflasi sudah membuat banyak orang tak bersikap kritis. Termasuk saya yang sudah tak sanggup lagi bertanya; “Hai, bolehkah saya tahu siapa namamu?”

…Aku bisa membuatmu, jatuh cinta kepadaku

meski kau tak cinta, kepadaku…

 

1 minggu 1 cerita

Advertisements

3 thoughts on “Cuma Nama

  1. Kok q sangat enjoy ngebacanya y…..

    Kalimat terakhir, setiap manusia yg punya nama pasti ada profesinya yg dia pilih secara SADAR atau TERPAKSA demi INFLASI… Cukup menampar sih sebenernya bagi q.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s